Comfort Zone

Sore hari, hujan, dan secangkir kopi yang sukses diseruput habis. Rasanya hampir non-sense kalau ketiga aktivitas ini tanpa diikuti aktivitas di dalam pikiran.

My mind’s go wild, like they usually does. Gak se-wild yang dibayangkan sih. Hanya ungkapan bahwa pikiran aku saat ini melanglang buana ke banyak hal. Saat ini yang berputar di pikiran adalah bagaimana seseorang bisa beranjak dari comfort zone. Triggernya adalah semakin banyaknya orang yang memutuskan pergi dari suatu tempat, atau orang yang sedang berusaha untuk pergi dari tempat tersebut, dan orang yang masih dalam tahap berpikir untuk pergi dari tempat tersebut.

It happens right in front of me. Many people leaves, no matter how long or short time they have been in this place. Sebenarnya logika nya adalah ketika seseorang sudah merasa tidak nyaman, mereka akan beranjak. Tapi kenapa yang terlintas dipikiran adalah mereka sebenarnya meninggalkan comfort zone mereka. 

A well known proverb said, “your life begins at the end of your comfort zone.”

Image 

Setidaknya ukuran kenyamanan seseorang berada di suatu tempat adalah 3 tahun, menurutku. Ketika mereka setelah 3 tahun memutuskan untuk pergi, maka aku pikir make sense ketika pada tahap tersebut, mereka meninggalkan comfort zone mereka. 

Selalu sulitkah keluar dari comfort zone?

Menurutku, seseorang yang masih berada pada comfort zone (seperti aku) adalah bahwa mereka hanya merasa di luar sana mungkin belum tentu lebih baik dan akan membuat keadaan lebih baik. Yes, I know I might be look as someone who doesn’t have any confidence and that’s not a type of a dreamer. Well, maybe I’m not a passionate dreamer then.

In my mind, meninggalkan comfort zone berarti to let go.. Dan.. letting go is not always easy. 

Image

 

Banyak hal yang kita gak bisa bayangkan akan terjadi setelah kita keluar dari comfort zone. Many things. Seseorang yang optimis mungkin akan menyambut dengan harapan yang sangat tinggi dan berpikir bahwa segalanya akan lebih baik. 

Bagaimana denganku? Yang berpikir bahwa saat ini, aku berada dalam comfort zone dan merasa hidupku sedang berputar di dalamnya? My life isn’t begin at the end of my comfort zone. It will going to end if I’m out. Kasarnya sih begitunya ya…hehe. 

Okay, sebenernya kesimpulannya mudah. Bagi sebagian orang yang siap melangkah untuk meninggalkan comfort zone mereka, mereka adalah petualang yang siap dengan segala apa yang terjadi di depan mereka nantinya dan sudah rela for letting go. Sedangkan bagi mereka yang masih terperangkap dalam comfort zone, bukan berarti tidak punya mimpi (seperti aku). Kadang, mimpi mereka tak cukup menjadi pembangkit jiwa petualang di dalam diri mereka karena banyak hal. Di antaranya adalah, rasa nyaman itu sendiri yang membuat mereka tetap hidup, rasa takut yang ada di dalam diri mereka, dan mungkin karena kerumitan yang dihadapi membuat mereka enggan untuk bertindak lebih jauh dan mengambil keputusan ekstrem.

Sebagai seseorang yang sangat gemar menonton drama korea yang menjual mimpi..(and I really buy those dreams), mungkin agak kontradiktif ketika aku menyatakan I’m still in my comfort zone and I won’t let go. Well, that’s fine for me.. being here in my comfort zone, not knowing what will happen next.. as long as I can do better everyday and my imaginations are still alive. That way, I still can live more longer in this kind of zone.

Have a great weekend…and I’m looking forward for my escape to Bali next week.

Ciao.

wanita berkarakter

Percakapan antara seorang teman dan pasangannya di suatu hari :

P : “sayang, kamu nabung ya..”
W : “buat apa?”
P : “buat kita nikah nanti..”
W : ” what???!! Lo aja yg nabung!”
P : “kenapa sayang?”
W : “no no no.. Gue bakal menderita hamil 9 bln nanti! Lo aja yg biayain semua..kan lo yang mau nikahin gue. Gue gak nikah ama lo jg gpp!”
P : !,:$”*!@”$??!@#*

Wanita yg berkarakter!

Posted with WordPress for BlackBerry.

too good to be true.

Pernahkah kamu,
Ketika sangat menginginkan sesuatu
Hingga bersimpuh berdoa dan air mata
Namun tak juga kau dapatkan.

Rasa sakitnya, kehilangan harapan
Itukah yang kamu rasakan?

Tapi pernahkah kamu,
Ketika kamu hampir menyerah
Dan merasa sebuah doa terlalu baik menjadi kenyataan
Lalu datanglah pertanda baik

Bahagiakah kamu?
Atau bahkan, menjadi ketakutan?

Too good to be true,
Hingga kamu takut menghadapinya
Too good to be true,
Hingga kamu takut menggenggamnya
Too good to be true,
Hingga kamu takut meraihnya.

Apakah benar, Semua itu datang untukmu

Bukan meragukan kuasa Tuhan,
Hanya tak sanggup ketika mungkin akan diambil lagi

Maka, ketika kamu merasa apriori terhadap dunia
Hanya rasa takut yang menyelimutimu
Sebab jejak yang dulu terurai Menyisakan luka yang membuatmu lelah
Dan hampir menyerah
Maka, ketika datang sebuah pertanda Ragukah, ketakutankah,
Atau hanya sekedar waktu?

Because, it’s too good to be true.

alone.

for these couple of days, my worlds are spinning roughly.to the climax till anti-climax.

so many people come, offering some sweetness and tenderness with a little prayer.

i laughed, i smile, but my heart dont stop beating hard.dunno why.

i lost wings.wings to spread the love,the happiness. i was frustrated though i tell people im okay, im happy, and so on.

last nite i broke.this girl had just been drowning away to the bottom.

sometimes i hate being nice, being cheerful and not showing my deepest emotions.im tired of being strong, being brave and pretend nothing happens.

im not fine.im sick,im hurt.im a broken wings.

let me be emo this time.i just dun want to be an angel this time.

and for you, the one who used to be the piece of my heart.. i am truly happy for u, im not lying. though inside, still i cannot throw u away and need love to heal this broken heart.

mati rasa.

mati rasa.

Pernahkah kamu, merasa tidak merasakan apa-apa.

Kelu. Meskipun lidah bergerak dan memproduksi kata-kata.

Tak bergetar di dalam rasanya.

Bahkan ketika kamu mencoba untuk menjelaskan pada dirimu sendiri.

Bagaimana rasanya?tak merasa.

Sebab mati rasa.

Perasaan yang bisa datang ketika terlalu sakit.

Kadang bahkan rasa sakit itu sudah tak dapat dirasakan.

Bukan. Bukan kebal.

Tapi mati rasa.

Kalau kebal kamu tak menyerah tuk merasa lagi.

Tapi ini mati rasa.

Perasaan yang tak bisa merasakan apa-apa.

Tak tahu apa yang dirasa, mungkin antah.

Tak jelas rasanya, tanpa garam apalagi merica.

Seakan tak berbumbu.

Padahal sudah sesuai resep.

Karena bahannya sudah terlalu banyak hingga mau tumpah.

Tak merasa pusing, sesak, apalagi mual.

Tak merasa marah, benci, apalagi dendam.

Tak tau berbuat apa, tak tau apa yang mesti diungkap.

Tak bisa merasa.

Tak bisa menambah titik ini menjadi dua.

Sial,ini perasaan apa?

Ya mati rasa.

Tapi perasaan ini membuat pelaku tidak eksis.

Ya sudah diam saja sampai bernafas lagi.

Sampai bisa membedakan mana sedih mana gembira.

Sampai bisa membedakan mana marah mana maaf.

Sampai bisa terstimulasi lagi untuk berdenyut.

Sebab kamu tidak akan berdenyut sampai kamu merasa.

Merasa sesuatu.

Damn.aku mati rasa.

Ada yang tahu bagaimana cara menghidupkannya lagi?