and the story goes…

It’s finally come to our journey..
time’s up for both of us to look for the best one.
‘coz we’re both too lucky to have each other

bismillah..we’ll take another step
and we’ll look forward for the happiness to come

and our happiness wouldn’t be complete without your presence and your pray on our big day.

The occassion will take place and time on :
Day/Date : Sunday/ 5 Dec 2010
Time : 11.00 AM – 03.00 PM
Place :
Komp. Andrawina Jl. Cemara I Komp. Andrawina No.B/7 RT.04/01
Pamulang, Tangerang Selatan

We look forward for your appreciation by come to our wedding.

Till we meet!

Warm Regards,
Dedes & Adji

*Note :
Please find the location map on below post.

Advertisements

hati kita cuma satu

hati kita cuma satu.

jadi jaga dengan baik jangan sampai terluka.

tapi walaupun begitu, kadang ada yang kita lupa.

bahwa terkadang ada hal yang tak terduga.

kadang saat kau genggam hatimu dengan seksama.

sama halnya ketika menyetir kendaraan bermotor.

meski sudah sangat hati-hati ketika mengendarainya.

tapi apakah kendaraan lain peduli akan keselamatan kita.

kadang mereka dengan mudahnya menjadi ancaman bahaya.

kadang orang lain tak akan melihat atau merasakan hati kita.

meski sudah kita jaga, mereka tak akan segan membuat kita terluka.

jadi, siapa yang harus menjaga hati kita yang cuma satu??

Segede Koran

Gak lama lagi, Indonesia bakal dihebohkan lagi dengan tradisi lima tahun sekalinya. Yep. Pemilu. Alias Pemilihan Umum. Semua makhluk yang udah setua tujuh belas tahun minimal, pada saat pemilu punya ke-fardhu-an untuk ikut nentuin siapa pemimpin Indonesia selanjutnya. Mungkin, bagi para abg yang baru pertama kali nyoblos, hatinya girang banget karena bisa ikutan pemilu dan dipercaya nentuin pilihan. Tapi, nggak semua orang yang berpengalaman bisa segirang itu.

Bagi banyak orang yang udah beberapa kali nyoblos, momen pemilu bukan lagi jadi sebuah pesta. Dulu, pada saat orde baru berkuasa, sering kita didoktrin oleh penguasa bahwa pemilu adalah pesta rakyat. Padahal, pemilu hanyalah sebagian dari upaya penguasa untuk menjebak rakyat dan memanipulir pikiran rakyat. Rakyat dijebak dengan pilihan-pilihan yang sudah ditentukan oleh penguasa itu sendiri. Tanya papa mama, ibu bapak, ayah bunda, yang udah ngerasain nyoblos pada pemilu orde baru. Apalagi, buat yang PNS. Kalo gak nyoblos, bisa turun jabatan. Apalagi gak nyoblos partai yang empunya adalah si penguasa itu sendiri. Yang ada, karier cukup sampai di situ. Tamat.

Kini, saat reformasi udah lebih dari satu dekade bergulir, pilihan memang tak terasa sesempit itu. Tapi tetep aja, itu bukan yang terbaik. Setidaknya, hal ini yang penulis pikir. Oke, kalau yang muncul ke permukaan adalah partai-partai baru yang punya misi mulia atau dengan ide-ide inovatif yang pengen bikin Indonesia kita lebih maju. Tapi kenyataannya, misi dan ide-ide itu semua bullshit. Karena kalau kita perhatikan lebih lanjut dan detil, banyak partai baru yang muncul adalah partai rekondisi. Kalo lu pada ngerti dunia hitamnya hape, pasti lu ngerti istilah ini. Semua muncul dengan chasing baru, tapi mesin jebot.

Sama halnya dengan banyak partai baru yang muncul sejak reformasi ini. Semua berlomba untuk bikin partai baru dengan mengusung panji-panji demokrasi. Seolah, demokrasi adalah dewa yang bisa bikin Indonesia jadi kaya. Tapi, yang mengecewakan (setidaknya bagi penulis-red) adalah bahwa mereka dimotori oleh muka-muka lama yang dulu ada dalam satu bendera berwarna kuning!!! Mereka yang pada pra dan pasca reformasi adalah setan bagi rakyat. Mereka yang ikut berkolaborasi menipu dan memperbudak rakyat. Mereka yang jahanam yang turut bikin rakyat jadi setengah gila, atau bahkan gila beneran.

Sekarang, yang tercatat sebagai partai peserta pemilu di KPU ada sekitar 30-an partai. Masalah lain yang penulis lihat selain partai rekondisi adalah semenjak reformasi, semakin banyak orang yang pengen jadi penguasa. Mereka pikir, rakyat gak eneg apa kalo saat pemilu nanti kertas suaranya segede koran? Udah cukup sinting kan para elit politik itu. Belum puas dengan jabatan menteri, anggota DPR, atau wakil presiden rupanya mereka juga ngincer jabatan paling strategis di seluruh negara republik, yaitu PRESIDEN (atau di sebagian negara jabatan ini dipegang oleh Perdana Menteri) dengan cara bikin partai baru.

Ini merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Semua orang ngotot mau jadi pemimpin. Semuanya kekeuh punya idealisme tersendiri yang mampu membuat rakyat bangkit dari kesengsaraan. Tapi, yang mereka pikir hanyalah kepentingan mereka sendiri. Yang mereka punya adalah ambisi super untuk menjadi penguasa dan melanggengkan kekuasaan. Kenapa sih? Sungguh, ini fenomena yang sangat memprihatinkan di negeri kita tercinta ini.

Coba kalau para elit politik negeri kita ini mau berpikir bijaksana. Bahwa banyak pilihan, belum tentu adalah yang hal terbaik. Apakah semua ini adalah kehendak rakyat? Yang diinginkan oleh rakyat adalah jaminan akan masa depan yang cerah bagi dirinya dan anak cucunya. Yang diinginkan oleh rakyat adalah tercukupinya kebutuhan primer bagi kelangsungan hidup. Yang diinginkan rakyat adalah terciptanya kondisi bangsa yang stabil dan aman terkendali. Bukan pertarungan elit politik yang sedemikian hebohnya. Bukan sekitar 30-an partai yang berkontestasi untuk berkuasa. Bukan hanya janji politik menggiurkan pada kampanye tapi menyengsarakan saat berkuasa. Bukan hanya menjadikan rakyat alat pengeruk suara agak bisa masuk ke electoral threshold agar cukup mapan untuk ikut berkuasa.

Bangsa yang besar dan modern memang memerlukan sebuah mekanisme untuk sirkulasi elit (baca : pergantian pemimpin). Namun, bukan hanya bagaimana mekanismenya yang perlu disusun dengan sedemikian canggih. Komposisinya juga patut menjadi perhatian. Apakah partai-partai yang maju dalam pemilu memiliki kapabilitas luar biasa dan dapat diandalkan bagi rakyat. Janganlah menjadi terlalu serakah dengan meloloskan 40-an partai dalam verifikasi. Banyak pilihan belum tentu dapat mendatangkan jawaban yang diinginkan. Terkadang, dengan sedikit pilihan tanpa pemaksaan bisa menjadi lebih baik. Jangan sampai, partai-partai yang muncul dalam pemilu 2009 hanya membuat dana pemilu melarat karena mencetak kertas suara segede koran.

*dimuat di Restore Zine vol.II, 2008*

We Will Not Go Down

Song for Gaza by Michael Heart

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

*lagu yg paling hits akhir2 ini, cukup menyayat hati..*