Do Love Needs Confession??

Fyuhhhhh…. bis nonton My Best Friend’s Wedding.. Agak miris ceritanya.

Selama 9 tahun menyimpan perasaan buat seseorang, dan akhirnya harus kehilangan orang yg dia cinta.

Hm…ironis banget ya?? Gak mau mengungkapkan perasaan karena terlalu sombong atau terlalu takut. Terlalu lama merasa berada di zona nyaman, sampai suatu saat sadar kalau itu semua akan hilang, dan udah terlalu terlambat untuk memperjuangkannya.

Nonton film itu aku jadi ngebayangin kalau itu terjadi sama aku. yah, bukan berarti aku juga punya pengalaman yg sama sih.. gak gitu.

Tapi aku jadi berpikir, ternyata cinta memang perlu diungkapkan ya?? Karena kita gak akan tahu apa yg terjadi besok, lusa, atau minggu depan.

Hm, bener sih cinta perlu diungkapkan. Tapi gimana kalau keadaannya gak memungkinkan?? Gimana kalau agar semua menjadi indah, lebih baik gak perlu diungkapkan. Karena kalau diungkapkan bisa menyakitkan, mungkin???

my-best-friends-wedding

Love is a big thing, I think. Needs energy, needs sacrifice…

But sometimes, coz it’s a big thing… it’s enough to make someone affraid.

Afraid to lose, afraid lo confess, afraid to take a step.. And then, in the end.. u just realize u’re just this close to lose the one you love because of being afraid.

I’m afraid too.

So, do love needs confession??

Advertisements

We Will Not Go Down

Song for Gaza by Michael Heart

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

*lagu yg paling hits akhir2 ini, cukup menyayat hati..*

Long Distance Relationship? Possible kah?

hmm…

timbul pertanyaan pastinya kenapa aku nulis tentang ini..hehehe.

Nothing’s personal kok, cuma tadi terlibat pembicaraan seru sama dua teman saya di sela-sela pembicaraan serius tentang skripsi.

Mengapa ada sebagian yang bertahan dengan long-distance relationship(kemudian disingkat dengan LDR), mengapa ada yang gagal?

Kalau kata seorang oknum yang baru-baru ini kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya yang kini menuntut ilmu di Australia, LDR itu sulit. Sulit menahan rasa kangen, sulit mengendalikan hubungan ketika tidak bertemu secara langsung, ragu akan kesetiaan, dan merasa miris karena pasangannya tidak ada di sampingnya ketika ia butuh.

Mungkin, karena ia tipe orang yang menakar kualitas hubungan dari sebuah phisical appearence yang intens dan komunikasi yang terjadwal. Tipe anak sma menurut saya. (hehehe..sotoyyy)

Satu lagi oknum yang sudah beberapa lama menjalin LDR antara Bandung-Paris. Kali ini saya mendapat jawaban yang cukup bijak. Dia tidak mengalami masalah seberat oknum yang di atas dalam urusan LDR, baginya yang penting adalah personal distance, bukan phisical distance. Bagaimana seseorang dapat menganggap pasangannya seperti seorang teman yang memiliki personal distance atau personal attachment, yang meskipun tidak bertemu secara fisik, namun dapat menjalin komunikasi yang berkualitas. Seorang teman yang mempunyai nilai surplus berupa kasih sayang tentunya.

Jadi, buat dia gak ada tuh jadwal2 tertentu untuk berkomunikasi. Yang penting ketika personal attachment atau personal distance itu terbangun dengan baik, maka mau SDR ataupun LDR bukan suatu kendala. Tipe orang dewasa menurut saya.

Jadi kesimpulannya,

apakah anda seseorang yang menilai hubungan dari frekuensi pertemuan dan komunikasi yang terjadwal?

ataukah seseorang yang menilai kualitas hubungan dari kedekatan personal yang mapan?

kalau anda tipe pertama, jangan LDR, meskipun hanya mengejar status agar tak dibilang “gak laku”. karena akibatnya akan menimpa teman-teman di sekeliling anda dengan keluhan-keluhan anda yang sama setiap harinya, dan selain itu potensi runtuhnya kesetiaan besar. Sebab, pasti ada lawan jenis yang secara fisik lebih dekat dengan anda dan mungkin ada saat anda butuh, membuat anda tergoda.

kalau ada tipe kedua, anda tak perlu khawatir akan short atau long nya distance anda dengan si dia ketika menjalin relationship. anda orang yang lebih menilai hubungan secara substansil.

tipe anak sma atau orang dewasa kah anda???

(hahahaha…. gaya dah sok ngerti banget!) 😛