Part IV : We Could Be In Love

Ini lanjutan dari kisah  berantai sebelumnya. Enjoy 🙂

February 2010. 

Image

Sebuah berita besar dan sangat membahagiakan aku terima di penghujung bulan February. Confirmed single. Salah seorang sahabatku mengetahuinya setelah gak sengaja ia mancing pembicaraan mengenai sesosok manusia yang bernama ‘pacar’. 

Disitulah akhirnya terungkap status sesungguhnya dan skenario besar yang ada di balik cerita tentangnya yg udah taken. Lebay? Ehmm.. tepatnya childish. Gimana gak, rekan si Mr X ini sengaja mengungkapkan ke public kalo Mr X  is not single and available. Karena rupaya orang ini pengen jodohin dengan cewek yang lain, dan pengen jodohin aku sama si ‘video player’ yang kebetulan jadi pelampiasan sementara kala itu. Sangat gak dewasa. 

Well, mungkin aku juga gak dewasa yaaa..main2 dengan hati orang dan…aku gak pernah ngerasa bangga karena ternyata itu bisa menyakitkan buat orang lain. Okay, lanjut ke soal terungkapnya status si gebetan atau si Mr X itu. 

Sore itu, setelah menerima kabar bahwa dia single dan open, akhirnya aku memberanikan diri mengirim ‘sinyal’ secara lebih tegas. Tapi tetap, I don’t want to be the one who made moves. Ini udah waktunya meninggalkan dunia emansipasi wanita dan menemukan seseorang yang genuine memberikan effort nya untuk mendekatiku. 

Kebetulan aku punya sesuatu untuk berbagi, sepotong kue. Akhirnya, aku sengaja kasih ke si gebetan dan Alhamdulillah dia menyambut baik. Dari situ, gayung bersambut dan masuk ke bulan setelahnya, kami sudah membuka percakapan lebih jauh. 

Maret 2013

Image

Pernahkah kepingin jadi anak kecil yang punya banyak mimpi dan imajinasi seperti Wendy dalam kisah Peter Pan? I had.

Salah satu mimpiku adalah bisa bersama dengan orang yang tepat, di waktu yang sudah kurencanakan sebelumnya, dengan imajinasi-imajinasi indah yang aku bangun di dalam pikiranku saat aku bertemu orang tersebut.

Yang tidak aku sangka, ketika impian itu terasa jauh.. dalam satu hari itu menjadi terasa sangat dekat. Gak butuh waktu lama, Allah SWT menjawab doaku setelah aku hampir kehilangan harapan. Dengan si gebetan yang menurut aku adalah sosok calon pasangan hidup yang aku cari, jalanku terbuka luas. 

Kami semakin dekat dan tampaknya hubungan ini berjalan baik. Siapa bilang mimpi sulit jadi kenyataan. When you least expected, the dream can came true. Meski bukan dengan cara yang kamu pernah imajinasikan sebelumnya. 

Di bulan ini kami semakin dekat dan komunikasi semakin lancar, seakan aku lupa bahwa aku pernah berada dalam fase love fool. Hehe..bahkan di saat menulis ini aku masih ingat dengan jelas bagaimana asal muasal hubungan ini. 

Di bulan selanjutnya, aku gak mau kalah sama anak ABG, butuh PENGAKUAN. Yep, desperate nya si cewe kalau lagi pedekate tertuang jelas dalam syair-syair lagu band rada alay ‘Armada’ di lagu ‘Mau di bawa Kemana?’. Ini jadi theme song wajib setiap aku dan temen-temen hang out karaoke dan mereka seneng nge- bully aku dengan lagu ini. 

Tapi gak apa, dengan lagi itu pula aku sukses dapat pengakuan. Pathetic? Well, you can say anything but it’s my way. Unrequited love? Aku gak ada minat untuk mengulang semua pahitnya itu kembali. I just wanna be happy with someone I love, and of course who love me back. Makanya aku butuh pengakuan. Sesimpel itu alasannya. 

Memang banyak yang menganggap kalau udah dewasa rasanya gak perlu yang namanya pertanyaan atau pengakuan ‘jadian’, yang ada ‘jalan bareng’. Okay, kalau ukurannya gitu mungkin aku bukan orang yang udah dewasa. But trust me, every girl has an assurance. Ya gak?

Well, setelah meresmikan ‘jalan barengnya’, hubungan kami semakin dekat dan aku masih terkadang merasa sensasional. Orang yang dulu aku pikir gak akan ngelirik sama sekali ke aku atau punya rasa tertarik yang lebih jauh ke aku, dengan kesadarannya sendiri datang dan menawarkan hatinya buatku. Isn’t it the sweetest thing? 

anyone who seen us, knows what going on between us..it doesn’t take a genius to read between the line..

and it’s not the wishful thinking, or only me who’s dreaming..i know what this all symptoms of..

We could be in love. 

Lagu ini dideklarasikan sebagai lagu kami. 

December 2010

Image

I married a man of my dream on my birthday. 🙂

Gak sepenuhnya mulus, tapi aku bahagia. Setelah 5 bulan setelah menikah (baca post : Flash back : Penantian), aku akhirnya positif hamil. 

12 January 2012, putri pertama kami lahir setelah perjuangan panjang dan melelahkan yang aku alami selama hamil. Namun, sejak saat ia lahir hingga saat ini..aku bahkan terkadang lupa sakit dan lelah yang pernah aku rasakan. Itulah salah satu keajaiban hidup yang selalu aku syukuri. 

Image Image

 

Ini bukan the end dari rangkaian kisah yang pernah aku tulis, tapi ini adalah sebagian dari perjalanan yang aku masukkan ke dalam buku keajaiban hidup.

Have a nice weekend, good people

Advertisements

Parenting Challenge

Alrite. Rasanya udah lama banget gak nulis lagi..dan begitu buka ini jreng jreng…ada utang cerita flash back yang belum lunas-lunas. Well, gimana ya belum ada inspirasi buat nerusin cerita yang itu..hehehehe.

Kali ini, saya tepatnya sedang mengalami dilema perbatinan, Halah, bahasanya. Well, baru ngerasa ternyata dunia parenting itu challenging banget. Salut banget buat Mama-Papa yang udah sukses membesarkan 4 anak perempuan dengan akhlak yang baik (insha Allah baik semua).

Pasti bukan tugas yang gampang yang namanya ngurus dan mendidik anak. Salah didik di saat kecil bisa jadi bumerang saat dia dewasa. Mungkin sebagian orang ada yang beruntung punya anak yang sifat dasarnya memang mudah diatur, tapi buat saya…bukan berarti gak beruntung tapi Alhamdulillahnya saya dikasih tantangan untuk mendidik putri saya yang aktif dan cenderung bertipe agresif.
in playground

Awalnya ketika saya sadar anak saya bertipe seperti ini, saya gloomy banget dan malah jadi self blaming ngerasa mungkin karena saya bekerja setiap hari jadi anak saya kurang perhatian.

Jujur, hal itu ngebuat saya stress dan nangis bombay karena feeling guilty banget. Mungkin karena pada saat itu saya curhat pada orang yang kurang tepat. Bukannya memotivasi namun orang tersebut sukses bikin saya kepikiran berhari2. Well, mungkin bukan salah dia sih..karena memang kondisi yang dia hadapi dengan saya berbeda. I’m working mom dan dia stay at home mom.

Akhirnya, saya curhat lah sama sahabat lama saya, seorang kandidat spesialis psikolog anak. Panjang lebar curhat dan finally ngerasa lega banget dengar penjelasannya. Inilah bedanya konsultasi sama yg profesional dan yang bukan. Maksudnya bukan menyalahkan teman saya yang pertama, tapi kalau yg professional kan dia bisa membaca dan menganalisa situasi orang lain tanpa harus mengikutsertakan pengalaman pribadi nya.

Oke, ternyata saya gak boleh nyerah dan mewek karena anak saya bertipe agresif. Ini bisa ditangani dengan bijak. Bismillah, akhirnya saya ngerasa yakin aja saya bisa mendidik anak saya dengan baik.

Saya ubek2 artikel2 parenting di internet dan menemukan beberapa yang bagus yang menyatakan bahwa memang balita 1-2 tahun wajar memiliki sifat agresif. Dan cara penangan yang paling baik adalah kita harus bersikap sebaliknya, lembut tapi tegas.

Namanya ortu kan role model anak ya..kalau kita hadapin yang agresif dengan sikap yang agresif juga yang ada dia merasa bahwa sikapnya adalah benar karena “my parents did that”. Well, make sense ya.

Nah, gimana caranya menghadapi anak yang agresif tanpa kita jadi ikutan stress?? Ini Pe-er nya yang berat.

Artinya, yang pertama harus diubah adalah diri orang tua sendiri. Caranya, kenali diri sendiri sifatnya kayak gimana. Oke, kalo saya tempramen, pundungan, ceplas ceplos serta suka egosentris. Gak ada yang bagus banget ya keliatannya.

But at least saya bisa paham karakter saya sendiri. Dan PR buat saya yang pertama adalah self shoothing dan self calming yang baik supaya bisa menangani anak saya dengan lembut. Selama ini udah lembut sih tapi rasanya masih suka meledak dan stress.

Intinya, PR nya adalah mengendalikan diri supaya gak meledak di saat2 yang gak diharapkan. Karena di saat ‘meledak’ bisa jadi anak ngerasa takut, tapi hanya sementara dan lagi2 pada akhirnya dia merasa fine untuk begitu karena, “my parents did that”. Duh, apalagi anak saya copy cat nya jago banget…salah2 ucap kata aja bisa gawat karena dia cepat banget nge-beo nya.

Mudah2an saya bisa menangani dan mendidik anak saya dengan baik ya. Yuk ah, positive thinking..inshaa Allah bisa!
my cutie

Flash Back Part I : Penantian

alright, kemarin tiba2 posting cerita kehamilanku yang ternyata udah berjalan 28 minggu-an. setelah sekian lama nya gak blogging.

biar ada konsistensi cerita (saahhh…), sekarang waktu nya share tentang perjalanan menunggu datangnya jawaban doaku sampai di akhir trimester kedua.

Penantian
Semua org pasti setuju kalau yang namanya menantikan sesuatu itu rasanya bikin -meminjam istilah yang lg happening- galau-galau gimana gitu. Ahahahaha. Yes, penantian itu galau, jendral! Syndrom pengantin baru itu hampir sama di sebagian besar pasangan baru, pengen cepet punya momongan. Ya, meskipun sebagian pasangan memilih sengaja menunda karena satu dan lain hal. Dalam kasus ku, aku dan suami sepakat tidak menunda tapi juga gak kepengen buru-buru. Masa perkenalan yang cukup singkat bikin aku ingin menikmati mesra-mesraan pacaran selepas menikah.
Rasanya masih belum pengen direpotkan dengan urusan anak, masih pengen santai-santai dan masih menyesuaikan diri juga dengan kehidupan pasca menikah yang bisa aku bilang gak mudah. Kepengenku, yaaa at least di bulan ke-4 menikah aku hamil. Jadi anakku lahir tepat setahun pernikahan ku.
Ini rencana awal aja.
Setelah berjalan…ternyata aku sangat menantikan kehadiran si buah hati. Apalagi melihat dan mendengar cerita teman-teman yang baru menikah dan langsung dikasih hamil sm Allah swt. Dalam hatiku aku juga ingin seperti mereka.
Kecemasan-kecemasan mulai dataaaang…

Di bulan pertama, aku masih santai dan sibuk dengan jalan-jalan menikmati pacaran dengan suamiku. Kami sepakat kalau soal anak itu sudah digariskan oleh Allah swt, jadi tidak perlu ngoyo.Tapi sempet sih beli testpack dan hasilnya negatif.

Masuk bulan ke dua, haid ku mulai aneh. Yang biasanya mundur eh jadi maju seminggu. Plus dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Daripada penasaran, akhirnya ku cek ke RS Hermina mengenai haid ku ini dan sekalian juga mau ngecek keadaan rahimku apakah sehat dan baik-baik saja.. Alhamdulillah nothing to worry about. Sebenernya aku disuruh balik lagi setelah haid selesai, tapi aku gak balik. hehehehe. Selesai haid aku malah beli test pack…ya sapa tau..iseng2 berhadiah. 😛

Bulan ketiga, haidku mundur 2 minggu lebih. Akhirnya aku coba beli test pack (lagi). Sebenernya urusan test pack ini bikin aku tengsin dan cape juga sih. Setiap bulannya bolak-balik ke apotik beli test pack. Yg jaganya sampe kenal. Hihihihi.. udah gitu, belinya berbagai macam merk pula. Ya, namanya usaha.
And then again, hasilnya negatif. Tapi kok kenapa haidku belum datang-datang juga padahal udah telat lebih dr dua minggu.
Akhirnya aku dan suami datang ke Obgyn lagi. Kali ini aku datangin RSIA deket rumah, namanya RSIA Sayyidah. Dapet dokter cowok yang guanteng. Ahahaha, jadi seneng. Namanya dr Aditya Kusuma, SpOG. Masih muda dan orgnya informatif sekali. Dia menjelaskan apa itu yang namanya infertilitas lewat slide demi slide di laptopnya.
Ini lho di dokter ganteng dan baik hati itu.. (hasil googling dan ketemu di URL ini http://www.flickr.com/photos/selamatkanibu/4831066319/)

Setelah dicek dan ricek, di rahimku gak ada masalah. Hanyaaaaa… seharusnya kalau sudah menjelang haid, dinding rahimku menebal hingga sekian mm (lupa tepatnya). Tapi, ini cuma 2 mm, yaitu keadaan normal dinding rahim setelah haid. Nah lho.
Penyebabnya bisa dari stress, fisik yang lelah, dan faktor2 lain yang menyebabkan ketidakstabilan hormon.
Jadilah aku dikasih obat subur..hehehe maksudnya obat penambah hormon progesteron agar aku bisa haid. Dan efeknya sodara2…dalam dua bulan berat naik 3 kilo. Sesuatu yah.
Memang sih dalam 5 hari haid ku keluar, tapi berat badan juga ikut membuncah. Hiks hiks

Tapi see the bright side aja lah..kata temenku yang dokter gak apa makan jadi banyak, berat nambah..itu juga membantu kecukupan nutrisi buat mempersiapkan kehamilan. Okelah, gpp yg penting masih seksi. hahahaha.

Lalu, masuk ke bulan 4 pernikahan. Bulan yg aku targetkan untuk bisa hamil. Aku mulai mengintensifkan usaha-usaha supaya aku cepat hamil. bahkan sampai ribut2 kecil sama suami, karena kesannya ‘maksa’ dia supaya dia juga usaha. aku banyak baca artikel2 kesehatan, dan cari tips2 supaya cepet hamil. kalau ada hal yg dilakukan suamiku gak sesuai sama tips, aku ngambek. sebenernya jadi miris sih kalau inget. karena keinginan punya anak cepet jadi bikin hubungan bukannya harmonis malah jd ribet. hehehehe.
di bulan ini, lagi2 aku telat hampir 3 minggu. tapi aku sudah bersikap pasrah aja. meskipun memang usaha tetep dilakukan dengan sistem kalender. tapi aku gak mau jadi seperti orang yang terobsesi, karena semakin terobsesi semakin sewot sendiri dan akhirnya malah stress. Kalau stress malah makin susah hamilnya.

sebenernya yang bikin pasangan baru itu tambah terobsesi punya anak cepet adalah komentar dari orang sekitar. pertanyaan-pertanyaan dr mereka yang mungkin abis menikah langsung ‘isi’ atau mereka yang punya gambaran ideal mengenai siklus = menikah -> hamil. jarang yang berpikir bahwa sometimes ada yang harus menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya bisa hamil. sebenarnya mereka gak salah sih. hanya aja, setiap pasangan baru itu pasti terbebani dengan pertanyaan “kapan punya anak?” atau “udah isi belum?”. apalagi kalau ada yg menambah komentar, “gimana sih, kok belum? suaminya/istrinya kurang tokcer nih”. uuuuggghhhhhh, kalau denger yang kayak gitu rasanya udah sewot banget. pernyataan yang annoying banget! sebel kan denger yang kayak gitu. denger pertanyaan udah hamil belum aja, kayaknya udah bosen dengernya, ditambah pernyataan ‘kurang tokcer’ tuh cukup bikin pengen nyeburin tuh org ke danau. hahahahaha…sadisssss!

e tapi bener lho, that’s too shallow. semua hal terjadi ada alasannya. dan menikah semata-mata tujuannya bukan hanya punya anak. ada cita2 yang tidak kalah tinggi dari pasangan yang menikah, yaitu menyatu dengan cinta Allah swt. menikah itu demi mendapat berkah dari Allah swt. Hadirnya keturunan, adalah salah satu hadiah dari Allah swt sekaligus titipan bagi pasangan menikah yang mencari ridho dan berkah Allah swt. jadi, gak pantas buat kita menilai hal buruk terhadap kehendak Allah swt.

Aku dan suami selalu positive thinking. Keturunan akan hadir saat waktunya tepat. Kalau Allah swt bilang sekarang, ya sekarang. Tapi kalau Allah swt masih menahannya, ya kita harus tawakkal dan jangan berhenti usaha. Dan kami memutuskan untuk tidak mendengar dengan serius tanggapan orang, karena pernikahan ini kami yang jalani. toh juga baru berjalan 4 bulan dan orang tua kami masing-masing tidak pernah menuntut apalagi menyalahkan salah satu dari kami.

4 bulan masih sangat muda untuk umur pernikahan. jadi, tidak ada alasan tepat mendengarkan kalimat negatif dari orang lain tentang belum hadirnya sang buah hati. mungkin, masih ada PR buat aku dan suami untuk dibenahi sebelum kami siap menerima kehadiran anak.

salah seorang teman baikku berkata, “kalau lo punya keinginan, sebaiknya lo bernadzar. dan setiap malam sebelum tidur coba untuk sholat hajjat dua rakaat.”

semenjak itu aku membicarakan nadzar dengan suami dan mulai menjalankan sholat hajjat dua rakaat sebelum tidur.

Bulan kelima pun datang. Aku dan suami semakin cuek dengan omongan orang dan kami semakin menikmati kebersamaan kami berdua. Dan alhamdulillah nya, di awal bulan kelima suamiku punya cukup uang untuk DP mobil. Meskipun bukan mobil baru dan bukan mobil mahal, tapi tetap saja itu menjadi kebanggaan bagi suamiku yang sudah menabung beberapa tahun. Ini mobil pertamanya. Tercapailah cita-citanya untuk memiliki mobil sebelum aku hamil. Dulu, sebelum menikah, dia pernah bilang gini, ” hun, aku pengen punya mobil nanti setelah kita nikah dan kalau bisa sebelum kamu hamil. supaya kalau kamu hamil nanti, aku bisa antar pakai mobil kemana2.” dan Alhamdulillah, keinginannya terwujud. Pada saat itu aku belum hamil, dan kami sudah memiliki mobil dengan metode cicilan.

akhirnya aku dan suami sama2 ikut kursus nyetir selama kurang lebih sebulan (8 jam). setelah selesai 8 jam, kami coba ngelancarin pakai mobil sendiri. pertama kalinya nyetir jarak jauh, suami ku sampai harus ‘nyewa’ navigator. hahahha. karena masih ngerasa belum pede kalau nyetir gak ada pendamping.

This is it…
Masuk bulan ke-6, banyak hal aneh terjadi sama tubuhku. kepala pusing terus, badan tuh rasanya panas, pipis jadi sering, dan kalau di jalan suka mual2. memang sih aku sudah telat, tapi aku gak mau GR lagi. cape beli test pack terus dan hasilnya negatif. sudah gitu, muncul flek-flek selama beberapa hari. ya sudah aku mengiranya kalau ini tanda2 mau haid.

sebenernya aku malas, tapi suamiku maksa beli test pack karena curiga dan prihatin dengan aku yang tiap hari keadaannya menyedihkan. hehehe. ya sudah aku nurut deh. akhirnya tanggal 9 juni 2011 malam aku beli test pack di apotik yang jual obat generik deket rumah. harganya cuma 3000. ya sudahlah aku juga nothing too lose. aku beli malam itu, dan besok paginya selepas bangun tidur aku langsung tes urin.

hasilnya, dua garis merah tegas langsung terlihat. tapi aku masih gak percaya, karena ya test pack ini harganya cuma 3000, dan merk nya pun gak jelas. *sombong*
sementara kemarin2 aku beli test pack dengan merk2 terkenal yang harga nya belasan bahkan puluhan ribu hasilnya cuma satu garis. (hahahahah, itu mah emang dasar belum hamil yaaa :p).
aku langsung manggil suamiku ke kamar mandi untuk ngunjukin hasilnya. ekspresi nya beragam. aku sulit menjelaskannya karena aku juga masih gak yakin.

Hari itu, tgl 10 Juni 2011 kami putuskan untuk periksa ke Obgyn. tapi sebelumnya, suami ku ke apotik dulu untuk beli test pack yang ‘mahalan’. just to make sure. aku cek dan ternyata hasilnya juga dua garis. Alhamdulillah.
tapi yang bikin worry, kenapa ada flek yang keluar?

aku pun memutuskan untuk periksa ke dr adit lagi, karena udah pas aja. RSIA nya kebetulan Islami, jadi kalau ada pemeriksaan transvaginal, si dokter ini menyerahkan ke bidannya. jadi dia hanya melihat lewat layar, sementara si bidan yang memasukkan alatnya. so, walaupun dokternya laki-laki tapi tetap merasa nyaman karena dia gak menyentuh2 bagian sana. hehehehe.

tapi rupanya pagi itu dr adit sedang ada tindakan. sementara dokter lain di RS itu belum ada yang datang. akhirnya kami cari RS lain. dan terpilihnya RSIA Bunda Aliyah di Pd. Bambu.
Disitu aku ditangani sama dr Icksan, SpOG karena cuma dia yang praktek saat itu. dan aku sudah mohon2 supaya gak ada pemeriksaan transvaginal. selain gak nyaman, aku juga takut sama alatnya. hiiiiiii
ini fotonya dr icksan (hasil googling juga dan dapat di URL http://www.bunda.co.id/images/dokter/icksan_dr)

Dan, di USG lah perutku. dan ternyata, ada bulatan hitam di dalam prutku yang disebut ‘kantong rahim’. Subhanallah.
dr Icksan bilang, ‘jelas hamil dan jelas bagus karena hamilnya di dalam kandungan’. Alhamdulillah ya Allah.
Usia nya sudah 6 minggu dan ukurannya sudah 1.83 cm.
Tapi aku harus bedrest 3 hari supaya flek nya berhenti dan aku pun dikasih obat penguat rahim.

Alhamdulillah, penantian ku dan suami terjawab. Allah swt menjawab doaku dan nadzarku.
Ini bukan akhir, melainkan tahapan pertama dari new journey yang diamanatkan Allah swt untuk keluarga baruku.
Dan pastinya, keinginan suamiku agar ketika aku hamil kami sudah punya mobil, sudah tercapai.

Benar kan, semua akan indah pada waktunya. 🙂

to be continued..

Love,
Dedes

it’s been 28 weeks now!! can’t hardly wait ;)

alhamdulillah…

blog ini masih bisa dibuka dan saya gak lupa passwordnya! yippie! 😀 saking lamanya gak pernah blogging lagi semenjak menyandang status ‘Nyonya’. hihihi..

eniwei, sekarang aku udah jadi calon Ibu. kehamilanku sudah masuk minggu ke 28, which is…12 weeks to go!!
ini aku waktu umur kehamilanku 6 bulan (24 minggu).

perutnya sudah besaaaarrr…hehehe.
dan aku cinta perubahannya, melihat perutku yang tambah besar setiap minggu nya rasanya amazing.
betapa nikmat dan karunia Allah swt amat besar, mengizinkan aku untuk mengandung seorang calon manusia yang akan menjadi keturunanku dan suami.
Subhanallah…

sebagai bumil yang kritis (kritis sama penasaran gak beda jauh kan ya ;p), aku punya tabel perkembangan janin setiap minggunya. aku unduh dari salah satu website ternama http://www.ayahbunda.co.id
seperti ini tabelnya :

dari sini kita bisa lihat setipa minggunya berapa rata-rata berat dan panjang si calon baby.
jadi kalau kita kunjungan bulanan ke dokter, bisa dikira2 hasilnya gimana 🙂

Di minggu ke 28 ini, calon baby ku semakin aktif. apalagi kalau udah malem. susah tidur deh Ibunya. hehehehe.
dia gerak ke kanan ke kiri mengikuti posisi tidur Ibunya. setiap malem suami ku dengan setia mengoleskan “Cussons First Years for New Mun : Stretch Mark Cream” di perutku supaya nanti stretch mark pasca melahirkan bisa diminimalisir, dan tentunya biar gak gatal berlebihan seiring dengan semakin besarnya perutku.

Calon baby ku cukup responsif terhadap stimulasi suara, khususnya suara Al Qur’an dan musik. kalau aku mengaji, atau aku pasangkan rekaman org mengaji, dan aku kasih denger musik klasik dia langsung merespon dengan banyak gerakan.
insya Allah, usaha yang aku lakukan ini bisa membuat ia menjadi anak yang smart dan bertaqwa. amin ya rabb…

perubahan di tubuhku juga sudah sangat kentara, dulu pake baju M udah ‘Muat’, sekarang harus pake baju XL supaya bisa ‘Xtra Lega’ hehehe. ada beberapa baju sebelum hamil yang masih bisa dipakai, tapi kebanyakan sih ga..hahaha.
mungkin pertambahannya udah 12 kilo lebih kali yaa, dihitung dari sebelum hamil. fyuh..gpp lah kata suami ku masih seksi.hahaha

due date nya 4 Februari 2012…rasanya masih lama banget. aku pengen waktu berjalan lebih cepat lagi supaya hari itu cepat datang. i wanna see my baby soon! hehehehe… gak sabar pengen ketemu, meluk, menyusui, cium, waaaah pokoknya rasanya rindu banget sm si calon baby.

takut melahirkan? hmmmm…Alhamdulillah gak berlebihan. baca buku ini itu, denger pengalaman yang sudah melahirkan cukup menggambarkan bagaimana sakitnya pengalaman melahirkan itu. tp aku harus positive thinking, bahwa proses ini indah. bahwa nantinya kesakitan itu akan tergantikan dengan lahirnya pelipur lara kami ke dunia. mencoba membayangkan bahwa setelah kesakitan itu ada hal yang sangat indah, karunia yang sangat besar dari Allah swt.
maka, dari sekarang aku melakukan self therapy untuk meminimalisir ketakutan berlebihan pada saat melahirkan nanti. tawakkal dan mendekatkan diri pada Allah swt aku selalu coba lakukan agar nantinya semua dimudahkan. insya Allah…

I’m so excited! 🙂

Oia, bulan2 ini saatnya hunting baju dan perlengkapan baby! yeay…makin excited.

Love,
Dedes

Begadang.. Jaga Emak..

Sekarang ini waktu nunjukkin pukul 1:54 am hari Rabu, tanggal 14 Januari.
satu doaku sekarang : Ya Allah, beri aku kesabaran dan keikhlasan.

Dimulai dari awal januari tahun ini. Nenekku yang usianya 80-something sedang menginap di rumahku. Beliau satu-satunya leluhurku yang masih hidup. Aku manggil beliau dengan sebutan Emak. Kedua orang tua dari bapakku, Mbah Kakung dan Mbah Uti sudah meninggal, dan kakekku dari Ibuku juga udah meninggal.

Emak mulai menginap di sini sejak awal januari. Emak udah dua tahun lebih tinggal sama Uwa (kakak ibuku). Dan Emak menginap di rumahku karena sepupu2 ku hampir semua sakit. Ada yang DB, Thypus, gangguan lambung, dan demam. Jadi, otomatis gak ada yang bisa ngurus Emak di sana.

Karena umurnya yang udah setua itu, maka kualitas fisiknya pun udah banyak berkurang. Penglihatan kabur, pikun, pendengarannya sudah buruk, dan jalannya pun membungkuk. Dan benar kata orang, saat manusia semakin tua, maka tingkah lakunya pun kembali menjadi seperti anak kecil. dan itulah yang terjadi pada Emak.

Sebelumnya emang Emak tinggal bertahun-tahun sama aku setelah Abah meninggal (kakekku, suami Emak) di tahun 2001. Aku emang lebih dekat sama orang tua dari ibuku karena tinggalnya masih satu kota dan propinsi sama keluargaku. Kalo orang tua dan keluarga dari Bapak ku semuanya tinggal di Pekalongan.

Nah, semenjak Emak menginap di rumah aku lagi, ujian kesabaran menghadang seluruh anggota keluargaku. Emak yang udah pikun, sekarang jadi seperti orang yang terjebak di masa lalu. Daya ingatnya setiap harinya mundur. Jadi, kalau kemarin ingatannya masih bermain di seputar ingatan tentang suaminya, hari ini, saat aku nulis ini, ingatan Emak bermain di seputar ingatan tentang orang tuanya, yang sudah meninggal berpuluh-puluh tahun lalu.
Dan dalam sehari, mungkin beberapa jam sekali, Emak selalu bilang, ” Emak mau pulang.”
????

Setiap menghadapi pertanyaan Emak “kapan Emak pulang?”, masing-masing dari kami pasti punya jawaban beda. Jawaban yang paling sering yaitu :
” Nanti Mak, masih ujan.”
” Mak tidur aja dulu, besok dijemput.”
Ini dikarenakan, pertanyaan ini semakin intens ditanyakan pada jam2 seperti sekarang ini.

Kalau ada kata2 Tuhan tidak pernah tidur, maka aku punya kalimat beda : Emak tidak pernah tidur. Setidaknya di malam hari. Jadi, setiap harinya secara bergantian aku, kakakku yg kedua, dan sepupuku mengontrol kegiatan Emak di malam hari. Merelakan rasa kantuk kami demi menjaga nenek kami tercinta.

Kenapa aku bilang, menghadapi Emak adalah ujian kesabaran?
1. Emak selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap harinya.
2. Ngomong sama Emak, berarti harus meninggikan suara beberapa desibel. Dan ini harus hati-hati, salah intonasi bisa dikira marah-marah. Dan terbukti, ini bikin Emak sedih.
3. Setiap saat, harus pasang kuping biar terang untuk memantau aktivitas Emak. Karena udah jd seperti anak kecil, jadi harus meningkatkan kewaspadaan takut-takut ada hal yang kurang berkenan.

Hari ini yang bikin aku cukup sedih adalah, beberapa menit lalu di sela-sela aku nulis note ini, aku memantau aktivitas Emak yang gampang dilacak melalui suara pintu terbuka. Emak mau ke kamar mandi pada awalnya. Keluar dr kamar mandi, aku syok denger pertanyaan Emak, ” orang tua Emak pada kemana?”
Dengan memilih intonasi yang paling halus aku jawab seadanya. Orang tua Emak udah lama meninggal. Denger jawaban aku, Emak keliatan sedih. Aku bujuk deh supaya tidur dan Emak terus minta pulang. Aku bilang aja, jawaban yang klise, “Emak tidur dulu aja.”
Emak jawab, ” Tapi Emak diajak ya klo pulang.”

Yang lucu waktu hari-hari pertama datang ke rumah aku. Emak gak betah di kamar, bolak-balik bawa tas ribut mau pulang sambil marah-marah. Gini katanya, ” Abah kemana sih? Gak pulang-pulang! Emak ditinggal sendirian! Punya laki gak pulang-pulang, udah mati kali!” dengan nada cukup tempramental.
Aku dan yang lain denger perkataan Emak itu agak bingung juga sih ya… Jujur, ada ketawanya juga.
Lha wong Abah udah meninggal sejak tahun 2001. Fyuh…bingung juga ngasih taunya. Karena mungkin dalam ingatan Emak, Abah masih hidup. Entah saat itu ingatan Emak udah berkuran di umur berapa.
Setelah di kasih tau sama kakak ku, Emak sedih. haduh….

Yah, semoga aku bener2 ikhlas dan sabar ngejalanin ini. Karena, Emak itu ibu dari ibu aku. Dulu waktu aku bayi kan Emak juga pasti pernah ngasuh aku. Semoga ini jadi ibadah buat aku dan Allah swt meridhainya.. Aminnn..

So, what I’m trying to say is…
NGANTUK!