the moment i told, “i am happy for you”

Lately, aku merasa hati ini ada yang aneh.
Seperti ada hal yang perlu diselesaikan.
Akhirnya, dengan effort yg cukup besar, aku mencoba untuk menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.
Aku mengalami perdamaian akhirnya, dengan sakit hatiku dan dengan org yang memberikan rasa sakit itu. Indah, meskipun sempet juga nangis.
Ada beberapa hal yang aku sesalin saat itu.
But hey, that’s a plan. Master Plan of the Master of the World.
Aku terima itu, karena inilah memang jalannya. Setelah itu, ada juga yang masih terasa mengganjalAku coba cari tau, apa ini.
Belum bisa officially merasakan ini.
Akhirnya, aku cari cara untuk bisa merasakan hal ini.
Sampai akhirnya aku mengetahui sesuatu.
Bahwa ia sudah menemukan yang ia cari.
Sesosok perempuan yang mungkin selama ini ia nantikan.
Sejenak, ada yang terasa sakit. Aku jujur dalam hal iniMeskipun sudah lama berlalu.
Tapi ketika aku tahu bahwa ia bahagia, dan tentunya mendapatkan apa yang ia mau.
Sakit ini berubah menjadi lega, tenang, dan ikut merasakan bahagia yang tak penah kuduga sebelumnya.
Aku tau hari ini akan terjadi.
Hari di mana ia pergi ke pelukan perempuan lain.
Ketika kubayangkan, mungkin aku akan menangis, meratap, dan sengsara.
Tapi, Allah memang Maha Baik, Maha Bijaksana.
Hal yang kubayangkan tidak terjadi.
Aku tersenyum, bahagia, dan tak bisa berhenti tersenyum.
Sungguh, Allah sangat sayang padaku.
Aku tidak akan takut lagi.
Aku tidak takut lagi.
Dan dengan santun kuberitahu padanya,
“jangan khawatirkan aku, aku bahagia untukmu”
Aku siap sekarang untuk cerita-cerita manisku sendiri.
Aku tidak takut lagi.
Melepaskannya, dan mengetahuinya bahwa ia mendapatkan yang diinginkannya.
Buatku itu kebahagiaan yang tak ternilai.
Maka, the moment I told, “I am happy for you”
It means, I am truly happy, truly happy to feel, truly happy to say.

Advertisements

Laged

Ahahaha. Kalo inget nama itu, jadi rasanya kembali ke enam tahun lalu, saat baru kenal sama bocah-bocah ini. Masuk ke kelas 2-4, aku duduk sebangku sama Wiwit. Depannya ada dua anak “kembar” yang rajin banget upacara, Fany dan Vita. Di depannya lagi ada Omen –yang kemudian menolak dengan tegas dipanggil Omen – atau Puput yang duduk sama Melina. Dari dekatnya bangku tempat duduk kita berlima, lama-lama persahabatan itu tumbuh. Karakter satu sama lain pun terbongkarlah.

Aku : Suka lupa nama orang, bahkan temen sebangkunya sendiri. Tp Alhamdulillah udah sembuh penyakit ini. Hehehe.
Wiwit : tomboyy pisan, euy tp paling setia mendengarkan, dan psikolog pada eranya. (makasih,wit)
Fany : Manja, karakter anak terakhirnya kental sekali. Tp paling royal, rumahnya sering jd base camp (base camp, boleee…)
Vita : gosippers paling cihuy, dan paling hayu diajak kemana-mana.
Omen : keahliannya ngambek dan berantem sama Fany. Cuma Melina yang sabar sama dia. (kemana sih lo, Men??)

Tapi, karena seringnya kami berinteraksi, lama-lama jadi merasa udah sehati. Kami punya buku curhat yang berseri sampai 4. (Siapa sih yang dulu gak punya buku curhat rame2???hehehe). Waktu pertama kali punya buku curhat bersama, kami bingung cari nama. Akhirnya, dengan ide cemerlang dari aku, nah terciptalah nama LAGED, yang merupakan kependekan dari : Last Girls Borned (padahal dari segi grammar, kalimat itu udah salah banget! :P).Dan dari situlah, kami share banyak cerita dan semakin dekat satu sama lain.

)

berkumpul minum ocha di sushi tei 🙂

Selain karena sering main bareng, curhat2an, dan melakukan aktivitas bersama lainnya, kami juga punya satu kesamaan. Kesamaan itu adalah, menjadi penggemar dari seorang ikhwan ketua Rohis di sekolah pada era kami, (hahahahaha), yaitu ya…..gak usah disebutlah. Sering kalo kami lagi ngegosip berlima di depan kelas pas istirahat, si abang ini lewat dan kami siap-siap pasang muka innocent dan siap-siap ganti topic pembicaraan yang lebih islami.

Oh ya, satu catatan penting tentang ketua Rohis ini.
Beliau anak murid dari kelas 2-1, yang kelasnya ada di paling kanan di lantai dua. Persis di sebelah kelasnya, berdirilah masjid 47 yang megah. Setiap jam istirahat, ketua Rohis ini melakukan ibadah yang Subhanallah, jarang dilakukan pada anak-anak seumurnya, termasuk kami (hehehehehehehe), yaitu salat Dhuha. Nah, karena letak masjid yang tidak mungkin dicapai langsung dari kelasnya, meskipun letaknya bersebelahan, ketua Rohis ini pun harus melalui 5 kelas yang ada di sebelah kelasnya untuk sampai ke mesjid 47 dengan menuruni tangga yang ada di antara kelas 2-6 dan 2-7. Hal yang hampir selalu terjadi setiap harinya adalah, hampir semua murid perempuan yang ada di sekitar kelas yang harus dilalui ketua Rohis ini untuk mencapai tangga, akan bersiap-siap menantikan munculnya ketua Rohis ini di depan kelas mereka. Maka, ketika timing nya sudah pas, semua siap pada posisi dan ketua Rohis ini menebar pahala dengan menjawab salam dari semua perempuan yang mengucapkan salam padanya. Bisa di bayangkan, dia harus mehanan dirinya menghadapi para penggilanya dengan sikap yang selalu sabar dan selalu menjawab salam dari penggemar-penggemarnya. Apalagi kalau hari jumat, makin banyak aja perempuan yang berebut minta perhatian berkenaan dengan seragam jilbab yang dipakai setiap hari Jumat. Hahaha. Mungkin, kalau ada tangga di sebelah kelasnya, dia gak perlu repot-repot ngelewatin 5 kelas dengan kehebohan yang agak tidak biasa untuk mencapai mesjid. Tapi, itulah seninya punya ketua Rohis yang jadi idaman setiap wanita pada eranya.

Oke, cukup soal ketua Rohis ini.

Yang menjadi inti di sini adalah gak berasa bahwa udah 6 tahun kami bersahabat. Meskipun di kelas 3, Omen udah hilang dari peredaran, tapi kami berempat sampai sekarang masih sekali-kali ngumpul kalau ada kesempatan. Ya, yang menjadikan kami gak bisa sering-sering bersama ya karena kesibukan masing-masing. Terlebih, kuliah kami gak ada yang sejurusan meskipun ada yang satu universitas. Aku, kebetulan gak sengaja kuliah di UI, Fany di STT Telkom Bandung, Vita di FKG UNPAD, dan Wiwit di Psikologi UNPAD. Jujur aja, waktu tau kalau temen-temenku yang bertiga ini kuliah di Bandung semua aku sedih juga. Aku ngerasa kehilangan, meskipun ada banyak temen-temen yang lain di Jakarta. Tapi rasanya, gak sama seperti aku saat sama mereka. Untung, setiap liburan kami masih sering menyempatkan waktu untuk ngumpul.

Satu yang aku paling bangga dari kami berempat adalah, kami GAK PERNAH SATU KALIPUN BERANTEM. Aku bilang sih ini hebat. Mungkin karena kami yang masing-masing punya rasa toleransi yang besar sehingga bisa menerima kekurangan masing-masing, meskipun PASTINYA, kami pernah ngerasa kesal satu sama lain. Wajar lah, berinteraksi dengan orang lain gak selamanya menyenangkan. Tapi tetap aja hal ini yang paling aku banggakan. Kami juga selalu saling support, dan gak pernah mengecilkan hati yang lain. Salah ataupun benar, kami gak pernah men-judge satu sama lain. Karena itu, aku ngerasa nyaman banget sama ketiga sahabatku ini. Karena meskipun aku salah, mereka gak akan menghakimi aku apalagi ninggalin aku. Dan ketika aku kena akibat dari perbuatan aku yang salah, mereka juga gak akan menambah kesengsaraan aku. Mereka tetap ada di samping aku dan gak bosen memberikan pendapat terbaiknya. JADI, AKU GAK PERNAH TAKUT UNTUK MENJADI DIRI AKU YANG SEBENARNYA DAN GAK PERLU MENJADI PALSU KARENA INGIN MEMUASKAN KEINGINAN MEREKA.

Oh iya, satu hal lagi yang aku banggain dari kami berempat. Kami seneng banget ketawa. Pokoknya kalo udah ngumpul, selalu ada hal yang bikin kita ketawa. Berkumpul sama mereka bikin aku lupa sama masalah, dan waktu akan kami laluin dengan hanya bersenang-senang.

Ah, jadi kangen sama mereka bertiga.

P

kami lucu2 kan??? 😛

INI NOTE PENTING GUE BUAT KALIAN YANG SEMOGA KALIAN BACA :
Meskipun mungkin, gue bukan sahabat terbaik kalian, tapi buat gue kalianlah sahabat terbaik gue. Gue bangga punya sahabat yang hebat-hebat seperti kalian. Biar seluruh dunia tau, bahwa kalian adalah orang-orang yang selalu gue anggap penting. Gue sayang banget sama kalian dan gue punya harapan bahwa persahabatan kita akan terus berlangsung sampai kita manula. Karena buat gue, kalian adalah manusia-manusia indah yang dikirim Tuhan selain kedua orang tua gue untuk mengisi hati dan jiwa gue dengan yang namanya cinta dan kasih sayang yang tulus, serta cahaya yang selalu memancarkan keceriaan. I love you, my best best friends……. Gue kangeeeeeeeeeeeennnn bangeetttttttttttt sama kalian!

Jadi, KAPAN KITA KE DUFAN LAGI??? ATAU KEMANA KEK??!!
JANGAN PADA SOK SIBUK DEH…
KAYAK ORANG PENTING AJA SIH…
Hehehehe… 😛
Piss, lov, en gaul….