between feminist and feminine.

between feminist and feminine.

aku punya ketertarikan akademis pada persoalan perempuan, terutama yang berkaitan dengan Islam. namun tak menjadikanku seseorang yang memandang segala sesuatu dari kacamata ketertindasan perempuan, atau yang secara akademis dibilang “feminis”.

sebagai perempuan biasa, yang telah terkonstruksikan nilai-nilai agama sejak lahir, aku tahu kodratku sebagai perempuan.bukan mengakui bahwa perempuan setingkat lebih rendah dibanding laki-laki, namun mengakui bahwa perempuan laki-laki memang berbeda.diciptakan berbeda, bukan untuk setara dan sama, namun menjadi komplemen bagi satu sama lain. Tuhan lebih tahu tentang hal itu, karena IA yang menciptakan dua makhluk berbeda jenis kelamin.

ketika mereka menyebutku feminis, aku tak sepenuhnya menerima. bahwa aku peduli tentang nasib perempuan, tak bisa dipungkiri. namun bahwa aku menuntut kesetaraan gender, sama sekali tidak.aku puas dengan kodratku sebagai perempuan.ketika nantinya aku harus memasak untuk suami yang kucintai,mengurus anak-anak yang keluar dari rahimku,menunggu suamiku pulang dari kantor dan menunggu anak-anakku pulang sekolah di rumah sederhana kami, aku tak menolak.hanya menuntut penghargaan atas keberadaanku dan mohon tidak didzalimi.sebab aku percaya, sehebat-hebatnya dan sepintar-pintarnya perempuan di luar rumah,dalam karir,dalam pergaulan, ia tetaplah seseorang yang harus tunduk pada imamnya.

lalu, apakah aku feminis?kalau boleh aku jawab dengan diplomatis, bukan.

aku perempuan seperti kebanyakan, menyukai hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan, dan hal-hal keperempuanan lainnya.atau yang dikenal orang dengan istilah feminine.aku tak berusaha menjadi berbeda, karena menjadi perempuan adalah hal yang menyenangkan.

namun tak berarti aku tak bisa diajak bicara hal-hal di luar keperempuananku.atau bahkan jika ada yang menganggap aku memiliki sifat manja perempuan seperti perempuan kebanyakan.maaf, aku menolak klaim itu.

aku memang memiliki kelemahan dan kerapuhan, namun sedikit demi sedikit aku coba untuk menghimpun kekuatan.sebab,aku percaya menjadi perempuan adalah menjadi seseorang yang harus penuh dengan kekuatan.being a woman is being powerfull.

lalu, apakah aku seseorang yang feminine?mungkin. namun aku tak pernah menutup diri dari hal-hal yang terkesan maskulin.

🙂

dedesh.or it’s fine to call me desli.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s