Comfort Zone

Sore hari, hujan, dan secangkir kopi yang sukses diseruput habis. Rasanya hampir non-sense kalau ketiga aktivitas ini tanpa diikuti aktivitas di dalam pikiran.

My mind’s go wild, like they usually does. Gak se-wild yang dibayangkan sih. Hanya ungkapan bahwa pikiran aku saat ini melanglang buana ke banyak hal. Saat ini yang berputar di pikiran adalah bagaimana seseorang bisa beranjak dari comfort zone. Triggernya adalah semakin banyaknya orang yang memutuskan pergi dari suatu tempat, atau orang yang sedang berusaha untuk pergi dari tempat tersebut, dan orang yang masih dalam tahap berpikir untuk pergi dari tempat tersebut.

It happens right in front of me. Many people leaves, no matter how long or short time they have been in this place. Sebenarnya logika nya adalah ketika seseorang sudah merasa tidak nyaman, mereka akan beranjak. Tapi kenapa yang terlintas dipikiran adalah mereka sebenarnya meninggalkan comfort zone mereka. 

A well known proverb said, “your life begins at the end of your comfort zone.”

Image 

Setidaknya ukuran kenyamanan seseorang berada di suatu tempat adalah 3 tahun, menurutku. Ketika mereka setelah 3 tahun memutuskan untuk pergi, maka aku pikir make sense ketika pada tahap tersebut, mereka meninggalkan comfort zone mereka. 

Selalu sulitkah keluar dari comfort zone?

Menurutku, seseorang yang masih berada pada comfort zone (seperti aku) adalah bahwa mereka hanya merasa di luar sana mungkin belum tentu lebih baik dan akan membuat keadaan lebih baik. Yes, I know I might be look as someone who doesn’t have any confidence and that’s not a type of a dreamer. Well, maybe I’m not a passionate dreamer then.

In my mind, meninggalkan comfort zone berarti to let go.. Dan.. letting go is not always easy. 

Image

 

Banyak hal yang kita gak bisa bayangkan akan terjadi setelah kita keluar dari comfort zone. Many things. Seseorang yang optimis mungkin akan menyambut dengan harapan yang sangat tinggi dan berpikir bahwa segalanya akan lebih baik. 

Bagaimana denganku? Yang berpikir bahwa saat ini, aku berada dalam comfort zone dan merasa hidupku sedang berputar di dalamnya? My life isn’t begin at the end of my comfort zone. It will going to end if I’m out. Kasarnya sih begitunya ya…hehe. 

Okay, sebenernya kesimpulannya mudah. Bagi sebagian orang yang siap melangkah untuk meninggalkan comfort zone mereka, mereka adalah petualang yang siap dengan segala apa yang terjadi di depan mereka nantinya dan sudah rela for letting go. Sedangkan bagi mereka yang masih terperangkap dalam comfort zone, bukan berarti tidak punya mimpi (seperti aku). Kadang, mimpi mereka tak cukup menjadi pembangkit jiwa petualang di dalam diri mereka karena banyak hal. Di antaranya adalah, rasa nyaman itu sendiri yang membuat mereka tetap hidup, rasa takut yang ada di dalam diri mereka, dan mungkin karena kerumitan yang dihadapi membuat mereka enggan untuk bertindak lebih jauh dan mengambil keputusan ekstrem.

Sebagai seseorang yang sangat gemar menonton drama korea yang menjual mimpi..(and I really buy those dreams), mungkin agak kontradiktif ketika aku menyatakan I’m still in my comfort zone and I won’t let go. Well, that’s fine for me.. being here in my comfort zone, not knowing what will happen next.. as long as I can do better everyday and my imaginations are still alive. That way, I still can live more longer in this kind of zone.

Have a great weekend…and I’m looking forward for my escape to Bali next week.

Ciao.

Advertisements

Part IV : We Could Be In Love

Ini lanjutan dari kisah  berantai sebelumnya. Enjoy 🙂

February 2010. 

Image

Sebuah berita besar dan sangat membahagiakan aku terima di penghujung bulan February. Confirmed single. Salah seorang sahabatku mengetahuinya setelah gak sengaja ia mancing pembicaraan mengenai sesosok manusia yang bernama ‘pacar’. 

Disitulah akhirnya terungkap status sesungguhnya dan skenario besar yang ada di balik cerita tentangnya yg udah taken. Lebay? Ehmm.. tepatnya childish. Gimana gak, rekan si Mr X ini sengaja mengungkapkan ke public kalo Mr X  is not single and available. Karena rupaya orang ini pengen jodohin dengan cewek yang lain, dan pengen jodohin aku sama si ‘video player’ yang kebetulan jadi pelampiasan sementara kala itu. Sangat gak dewasa. 

Well, mungkin aku juga gak dewasa yaaa..main2 dengan hati orang dan…aku gak pernah ngerasa bangga karena ternyata itu bisa menyakitkan buat orang lain. Okay, lanjut ke soal terungkapnya status si gebetan atau si Mr X itu. 

Sore itu, setelah menerima kabar bahwa dia single dan open, akhirnya aku memberanikan diri mengirim ‘sinyal’ secara lebih tegas. Tapi tetap, I don’t want to be the one who made moves. Ini udah waktunya meninggalkan dunia emansipasi wanita dan menemukan seseorang yang genuine memberikan effort nya untuk mendekatiku. 

Kebetulan aku punya sesuatu untuk berbagi, sepotong kue. Akhirnya, aku sengaja kasih ke si gebetan dan Alhamdulillah dia menyambut baik. Dari situ, gayung bersambut dan masuk ke bulan setelahnya, kami sudah membuka percakapan lebih jauh. 

Maret 2013

Image

Pernahkah kepingin jadi anak kecil yang punya banyak mimpi dan imajinasi seperti Wendy dalam kisah Peter Pan? I had.

Salah satu mimpiku adalah bisa bersama dengan orang yang tepat, di waktu yang sudah kurencanakan sebelumnya, dengan imajinasi-imajinasi indah yang aku bangun di dalam pikiranku saat aku bertemu orang tersebut.

Yang tidak aku sangka, ketika impian itu terasa jauh.. dalam satu hari itu menjadi terasa sangat dekat. Gak butuh waktu lama, Allah SWT menjawab doaku setelah aku hampir kehilangan harapan. Dengan si gebetan yang menurut aku adalah sosok calon pasangan hidup yang aku cari, jalanku terbuka luas. 

Kami semakin dekat dan tampaknya hubungan ini berjalan baik. Siapa bilang mimpi sulit jadi kenyataan. When you least expected, the dream can came true. Meski bukan dengan cara yang kamu pernah imajinasikan sebelumnya. 

Di bulan ini kami semakin dekat dan komunikasi semakin lancar, seakan aku lupa bahwa aku pernah berada dalam fase love fool. Hehe..bahkan di saat menulis ini aku masih ingat dengan jelas bagaimana asal muasal hubungan ini. 

Di bulan selanjutnya, aku gak mau kalah sama anak ABG, butuh PENGAKUAN. Yep, desperate nya si cewe kalau lagi pedekate tertuang jelas dalam syair-syair lagu band rada alay ‘Armada’ di lagu ‘Mau di bawa Kemana?’. Ini jadi theme song wajib setiap aku dan temen-temen hang out karaoke dan mereka seneng nge- bully aku dengan lagu ini. 

Tapi gak apa, dengan lagi itu pula aku sukses dapat pengakuan. Pathetic? Well, you can say anything but it’s my way. Unrequited love? Aku gak ada minat untuk mengulang semua pahitnya itu kembali. I just wanna be happy with someone I love, and of course who love me back. Makanya aku butuh pengakuan. Sesimpel itu alasannya. 

Memang banyak yang menganggap kalau udah dewasa rasanya gak perlu yang namanya pertanyaan atau pengakuan ‘jadian’, yang ada ‘jalan bareng’. Okay, kalau ukurannya gitu mungkin aku bukan orang yang udah dewasa. But trust me, every girl has an assurance. Ya gak?

Well, setelah meresmikan ‘jalan barengnya’, hubungan kami semakin dekat dan aku masih terkadang merasa sensasional. Orang yang dulu aku pikir gak akan ngelirik sama sekali ke aku atau punya rasa tertarik yang lebih jauh ke aku, dengan kesadarannya sendiri datang dan menawarkan hatinya buatku. Isn’t it the sweetest thing? 

anyone who seen us, knows what going on between us..it doesn’t take a genius to read between the line..

and it’s not the wishful thinking, or only me who’s dreaming..i know what this all symptoms of..

We could be in love. 

Lagu ini dideklarasikan sebagai lagu kami. 

December 2010

Image

I married a man of my dream on my birthday. 🙂

Gak sepenuhnya mulus, tapi aku bahagia. Setelah 5 bulan setelah menikah (baca post : Flash back : Penantian), aku akhirnya positif hamil. 

12 January 2012, putri pertama kami lahir setelah perjuangan panjang dan melelahkan yang aku alami selama hamil. Namun, sejak saat ia lahir hingga saat ini..aku bahkan terkadang lupa sakit dan lelah yang pernah aku rasakan. Itulah salah satu keajaiban hidup yang selalu aku syukuri. 

Image Image

 

Ini bukan the end dari rangkaian kisah yang pernah aku tulis, tapi ini adalah sebagian dari perjalanan yang aku masukkan ke dalam buku keajaiban hidup.

Have a nice weekend, good people

Identity Crisis

Identity crisis, itu judul Carrie Diaries mlm ini, entah episode ke berapa. Sometimes, menonton drama adalah katarsis yg paling bagus untuk meluapkan dan menambah pikiran di kepala.

image

Bukan berarti kekurangan hal untuk dipikirkan, trust me, i’ ve had enough. However, setiap selesai menonton drama pasti ada kesan yang ketinggalan di hati dan pikiran ini. Sebagian karena cerita yg menyentuh, sebagian karena beberapa hal dlm drama tersebut benar adanya and i just realized.

image

Drama adalah pelarian terbaik. I love fairy tale, romance, and everything that goes beyond imaginations. Drama is one of many things that keeps me ‘alive’. Kenapa? Hanya drama yg menjual fantasi dan imajinasi dan somehow kedua hal itulah yg bisa menjadikan suntikan semangat dan menyegarkan pikiran yg kusut.

Well, ini bukan sekedar pengungkapan sisi feminitas semata. Drama itu candu. Melihat dan mendengar cerita yg gak ‘Real’ adalah salah satu cara untuk berpaling sementara dari rasa penat, ataupun perasaan gak nyaman lainnya.

Drama bukan sekedar hiburan mata sebelum bobo yg bisa bikin mimpi indah. Bahkan drama bisa bikin susah tidur, seperti saat ini. Karena sesuatu tiba- tiba masuk ke kepala dan seakan menjadi bensin untuk menyalakan kembali motor butut yg ada di dalam kepala ini.

image

I had too much imagination and thoughts, some of them are worth to think and maybe some others are not. But still, those things are a gift for me since it made me feel that i can hang on, i can fly through other dimension without anyone knows. It made me feels…survive.

Lalu, ada apa dengan krisis identitas seperti judul di atas? Sebenernya ini yg aku pikir sejak kemarin. I’m wondering who i want to be in the future? I mean, what kind of person that people recognized me in the future? I’m not talking about personality, but something that closely related to a role, a function, or people called it.. a profession.

image

Jadi apa ya nanti kalau sudah makin.dewasa? I have plans, of course. Tapi, apakah aku yakin dgn rencana-rencana itu? That’s the point. I think I’m not passionate enough, i don’t really now.exactly what i want to be and what i want do.

Aku punya rencaa banyak untuk Zahra, my little girl. Seperti org tua lainnya, rencananya pasti berhubungan sama pendidikan, dan kesejahteraan si anak nantinya. Tapi, untuk sampai ke sana, apa yg harus aku lakuin? Bekerja keras, wirausaha, mengajar, atau apa?

Nah, msh ada hubungannya kan dengan identity crisis? Hehe. Well, inilah efek drama yg irresistible. It makes you wonder.

Goodnite, good people. 🙂

Parenting Challenge

Alrite. Rasanya udah lama banget gak nulis lagi..dan begitu buka ini jreng jreng…ada utang cerita flash back yang belum lunas-lunas. Well, gimana ya belum ada inspirasi buat nerusin cerita yang itu..hehehehe.

Kali ini, saya tepatnya sedang mengalami dilema perbatinan, Halah, bahasanya. Well, baru ngerasa ternyata dunia parenting itu challenging banget. Salut banget buat Mama-Papa yang udah sukses membesarkan 4 anak perempuan dengan akhlak yang baik (insha Allah baik semua).

Pasti bukan tugas yang gampang yang namanya ngurus dan mendidik anak. Salah didik di saat kecil bisa jadi bumerang saat dia dewasa. Mungkin sebagian orang ada yang beruntung punya anak yang sifat dasarnya memang mudah diatur, tapi buat saya…bukan berarti gak beruntung tapi Alhamdulillahnya saya dikasih tantangan untuk mendidik putri saya yang aktif dan cenderung bertipe agresif.
in playground

Awalnya ketika saya sadar anak saya bertipe seperti ini, saya gloomy banget dan malah jadi self blaming ngerasa mungkin karena saya bekerja setiap hari jadi anak saya kurang perhatian.

Jujur, hal itu ngebuat saya stress dan nangis bombay karena feeling guilty banget. Mungkin karena pada saat itu saya curhat pada orang yang kurang tepat. Bukannya memotivasi namun orang tersebut sukses bikin saya kepikiran berhari2. Well, mungkin bukan salah dia sih..karena memang kondisi yang dia hadapi dengan saya berbeda. I’m working mom dan dia stay at home mom.

Akhirnya, saya curhat lah sama sahabat lama saya, seorang kandidat spesialis psikolog anak. Panjang lebar curhat dan finally ngerasa lega banget dengar penjelasannya. Inilah bedanya konsultasi sama yg profesional dan yang bukan. Maksudnya bukan menyalahkan teman saya yang pertama, tapi kalau yg professional kan dia bisa membaca dan menganalisa situasi orang lain tanpa harus mengikutsertakan pengalaman pribadi nya.

Oke, ternyata saya gak boleh nyerah dan mewek karena anak saya bertipe agresif. Ini bisa ditangani dengan bijak. Bismillah, akhirnya saya ngerasa yakin aja saya bisa mendidik anak saya dengan baik.

Saya ubek2 artikel2 parenting di internet dan menemukan beberapa yang bagus yang menyatakan bahwa memang balita 1-2 tahun wajar memiliki sifat agresif. Dan cara penangan yang paling baik adalah kita harus bersikap sebaliknya, lembut tapi tegas.

Namanya ortu kan role model anak ya..kalau kita hadapin yang agresif dengan sikap yang agresif juga yang ada dia merasa bahwa sikapnya adalah benar karena “my parents did that”. Well, make sense ya.

Nah, gimana caranya menghadapi anak yang agresif tanpa kita jadi ikutan stress?? Ini Pe-er nya yang berat.

Artinya, yang pertama harus diubah adalah diri orang tua sendiri. Caranya, kenali diri sendiri sifatnya kayak gimana. Oke, kalo saya tempramen, pundungan, ceplas ceplos serta suka egosentris. Gak ada yang bagus banget ya keliatannya.

But at least saya bisa paham karakter saya sendiri. Dan PR buat saya yang pertama adalah self shoothing dan self calming yang baik supaya bisa menangani anak saya dengan lembut. Selama ini udah lembut sih tapi rasanya masih suka meledak dan stress.

Intinya, PR nya adalah mengendalikan diri supaya gak meledak di saat2 yang gak diharapkan. Karena di saat ‘meledak’ bisa jadi anak ngerasa takut, tapi hanya sementara dan lagi2 pada akhirnya dia merasa fine untuk begitu karena, “my parents did that”. Duh, apalagi anak saya copy cat nya jago banget…salah2 ucap kata aja bisa gawat karena dia cepat banget nge-beo nya.

Mudah2an saya bisa menangani dan mendidik anak saya dengan baik ya. Yuk ah, positive thinking..inshaa Allah bisa!
my cutie

Writing is my inner passion!

Writing is my inner passion. Yes, from looong time ago. Berhenti menulis indah ketika duduk di bangku kuliah, saat waktu lebih banyak dihabiskan untuk membuat makalah – makalah dan mencari serakan – serakan berlian melalui kegiatan survey di kampus. Sejak dulu, cita-cita saya adalah menjadi penulis. Jatuh cinta adalah momen yang sangat bikin jadi produktif dalam menulis.. But, only if it’s one-sided love. If it’s not, I’d rather to have a date with the real one than collecting sweet and nice words to express it.

I like to write about anything in life, excluding politics. Yes, I know I’m a politics bachelor. But, spending 4 years in political science I think is enough. Bukan tidak tertarik menulis tentang politik, tapi saya lebih suka belajar ilmunya dibanding menganalisa aktornya. Karena jujur, I hate practical politics and I hate its politicians. Bisa dibilang, dulu keinginan saya untuk masuk dalam studi politik adalah ketertarikan saya untuk belajar mengenai politik itu sendiri  yang membuat saya penasaran karena politik dianggap kotor.

Politics is not dirty, the actor in it makes it look dirty. Politik ada dalam hidup kita sehari –hari. Ketika kamu ingin membuat pasanganmu membelikan kado ulang tahun tanpa harus membuatnya terlihat sebagai keinginan kamu. Ya, that’s politics my friends. It’s the way you influence people to do what you want without them realize that you’re influencing them. Don’t tell me you never do that. Oleh karena itulah, politik jadi ilmu tertua yang diwariskan oleh para ilmuwan Yunani macam Plato.

Okay, I said it earlier that I don’t like to write about politics. I’m done with it.

Yes, writing is till become my inner passion. I used to write anything that bumps up to my mind. Bahkan saya punya blog pribadi yang isinya ocehan – ocehan dan pandagan personal tentang apapun. Gak terlalu banyak posting memang, karena hanya iseng dan gak berniat jadi blogger professional.

Buat saya, menulis adalah pelampiasan terbaik dalam perasaan apapun. But, I decided not to be an extrovert anymore who always tell personal story publicly. Jadi, saya akan menulis kebanyakan ketika sedang rileks, nyaman, dan ingin membagikan perasaan itu kepada sekitar. Ketika punya masalah, saya jaga jarak dengan segala jejaring sosial dan lebih senang haha hihi dengan orang – orang yang nyata untuk melupakan perasaan itu. Galau? Gak la yau..hehehehe.

I want to write a lot. I want to be a novelist and launch a potential and best seller novel. Seems to me that it only my utopia. Menulis ini saja harus menunggu saat legowo sehingga saya bisa berekpresi. Menjadi ibu bekerja menguras waktu dan tenaga, tapi tentu tidak menguras kebahagiaan saya. Okelah saat ini saya hanya berfokus untuk menjadi smart and productive employee dan happy and healthy mother. Ada saatnya nanti, (dan saya harus percaya bahwa akan ada) ketika semuanya terasa cukup legowo, anak saya tumbuh menjadi anak yang cerdas, sholehah, happy, sehat, beautiful, dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa, saya bekerja di rumah dan memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk menuangkan berbagai pemikiran melalui tulisan.

I just don’t want to be too much multitasking person. For me it’s too much. Meskipun, terlalu banyak kejadian dan perasaan yang ingin saya tuangkan dalam tulisan – tulisan, bahkan saat di kendaraan umum (sering tidak selesai karena terganggu oleh pengamen punk yang merasa dirinya tidak lebih buruk dari penumpang, sigh!), dan dimanapun. Thanks God ada twitter.

Tempat ‘nyampah’ paling nyaman tanpa perlu khawatir dapat komentar dari yang lain. Pikiran apapun saat itu juga kadang saya ungkapkan lewat twit – twit saya. But, of course bukan ungkapan –ungkapan galau ala abg masa kini atau curhatan – curhatan colongan macam para penghuni facebook. I’m building a good image everywhere. Meskipun, ocehan di twitter kebanyakan adalah celotehan atau komentar yang tidak terbukti signifikansinya dengan khalayak, tapi saya sangat menghindari ungkapan kegalauan dan curhatan pribadi tentang masalah apapun.

For me, social media is the channel where you can connect to others. Jadi, sebisa mungkin yang diungkapkan adalah hal – hal yang tidak personal dan berikanlah image positif di social media sehingga orang akan menilai kamu sebagai orang yang positif. Jangan pernah memaki apalagi curhat di sosial media. That’s my principle in using social media. Social media is not personal and intimate. People will get you wrong when you shout on people or disclose your personal story.

Yes, I keep writing about anything, right? I think I’m good now. Now let’s get back to work and be a smart and productive employee.

Fighting!

Flash Back Part I : Penantian

alright, kemarin tiba2 posting cerita kehamilanku yang ternyata udah berjalan 28 minggu-an. setelah sekian lama nya gak blogging.

biar ada konsistensi cerita (saahhh…), sekarang waktu nya share tentang perjalanan menunggu datangnya jawaban doaku sampai di akhir trimester kedua.

Penantian
Semua org pasti setuju kalau yang namanya menantikan sesuatu itu rasanya bikin -meminjam istilah yang lg happening- galau-galau gimana gitu. Ahahahaha. Yes, penantian itu galau, jendral! Syndrom pengantin baru itu hampir sama di sebagian besar pasangan baru, pengen cepet punya momongan. Ya, meskipun sebagian pasangan memilih sengaja menunda karena satu dan lain hal. Dalam kasus ku, aku dan suami sepakat tidak menunda tapi juga gak kepengen buru-buru. Masa perkenalan yang cukup singkat bikin aku ingin menikmati mesra-mesraan pacaran selepas menikah.
Rasanya masih belum pengen direpotkan dengan urusan anak, masih pengen santai-santai dan masih menyesuaikan diri juga dengan kehidupan pasca menikah yang bisa aku bilang gak mudah. Kepengenku, yaaa at least di bulan ke-4 menikah aku hamil. Jadi anakku lahir tepat setahun pernikahan ku.
Ini rencana awal aja.
Setelah berjalan…ternyata aku sangat menantikan kehadiran si buah hati. Apalagi melihat dan mendengar cerita teman-teman yang baru menikah dan langsung dikasih hamil sm Allah swt. Dalam hatiku aku juga ingin seperti mereka.
Kecemasan-kecemasan mulai dataaaang…

Di bulan pertama, aku masih santai dan sibuk dengan jalan-jalan menikmati pacaran dengan suamiku. Kami sepakat kalau soal anak itu sudah digariskan oleh Allah swt, jadi tidak perlu ngoyo.Tapi sempet sih beli testpack dan hasilnya negatif.

Masuk bulan ke dua, haid ku mulai aneh. Yang biasanya mundur eh jadi maju seminggu. Plus dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Daripada penasaran, akhirnya ku cek ke RS Hermina mengenai haid ku ini dan sekalian juga mau ngecek keadaan rahimku apakah sehat dan baik-baik saja.. Alhamdulillah nothing to worry about. Sebenernya aku disuruh balik lagi setelah haid selesai, tapi aku gak balik. hehehehe. Selesai haid aku malah beli test pack…ya sapa tau..iseng2 berhadiah. 😛

Bulan ketiga, haidku mundur 2 minggu lebih. Akhirnya aku coba beli test pack (lagi). Sebenernya urusan test pack ini bikin aku tengsin dan cape juga sih. Setiap bulannya bolak-balik ke apotik beli test pack. Yg jaganya sampe kenal. Hihihihi.. udah gitu, belinya berbagai macam merk pula. Ya, namanya usaha.
And then again, hasilnya negatif. Tapi kok kenapa haidku belum datang-datang juga padahal udah telat lebih dr dua minggu.
Akhirnya aku dan suami datang ke Obgyn lagi. Kali ini aku datangin RSIA deket rumah, namanya RSIA Sayyidah. Dapet dokter cowok yang guanteng. Ahahaha, jadi seneng. Namanya dr Aditya Kusuma, SpOG. Masih muda dan orgnya informatif sekali. Dia menjelaskan apa itu yang namanya infertilitas lewat slide demi slide di laptopnya.
Ini lho di dokter ganteng dan baik hati itu.. (hasil googling dan ketemu di URL ini http://www.flickr.com/photos/selamatkanibu/4831066319/)

Setelah dicek dan ricek, di rahimku gak ada masalah. Hanyaaaaa… seharusnya kalau sudah menjelang haid, dinding rahimku menebal hingga sekian mm (lupa tepatnya). Tapi, ini cuma 2 mm, yaitu keadaan normal dinding rahim setelah haid. Nah lho.
Penyebabnya bisa dari stress, fisik yang lelah, dan faktor2 lain yang menyebabkan ketidakstabilan hormon.
Jadilah aku dikasih obat subur..hehehe maksudnya obat penambah hormon progesteron agar aku bisa haid. Dan efeknya sodara2…dalam dua bulan berat naik 3 kilo. Sesuatu yah.
Memang sih dalam 5 hari haid ku keluar, tapi berat badan juga ikut membuncah. Hiks hiks

Tapi see the bright side aja lah..kata temenku yang dokter gak apa makan jadi banyak, berat nambah..itu juga membantu kecukupan nutrisi buat mempersiapkan kehamilan. Okelah, gpp yg penting masih seksi. hahahaha.

Lalu, masuk ke bulan 4 pernikahan. Bulan yg aku targetkan untuk bisa hamil. Aku mulai mengintensifkan usaha-usaha supaya aku cepat hamil. bahkan sampai ribut2 kecil sama suami, karena kesannya ‘maksa’ dia supaya dia juga usaha. aku banyak baca artikel2 kesehatan, dan cari tips2 supaya cepet hamil. kalau ada hal yg dilakukan suamiku gak sesuai sama tips, aku ngambek. sebenernya jadi miris sih kalau inget. karena keinginan punya anak cepet jadi bikin hubungan bukannya harmonis malah jd ribet. hehehehe.
di bulan ini, lagi2 aku telat hampir 3 minggu. tapi aku sudah bersikap pasrah aja. meskipun memang usaha tetep dilakukan dengan sistem kalender. tapi aku gak mau jadi seperti orang yang terobsesi, karena semakin terobsesi semakin sewot sendiri dan akhirnya malah stress. Kalau stress malah makin susah hamilnya.

sebenernya yang bikin pasangan baru itu tambah terobsesi punya anak cepet adalah komentar dari orang sekitar. pertanyaan-pertanyaan dr mereka yang mungkin abis menikah langsung ‘isi’ atau mereka yang punya gambaran ideal mengenai siklus = menikah -> hamil. jarang yang berpikir bahwa sometimes ada yang harus menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya bisa hamil. sebenarnya mereka gak salah sih. hanya aja, setiap pasangan baru itu pasti terbebani dengan pertanyaan “kapan punya anak?” atau “udah isi belum?”. apalagi kalau ada yg menambah komentar, “gimana sih, kok belum? suaminya/istrinya kurang tokcer nih”. uuuuggghhhhhh, kalau denger yang kayak gitu rasanya udah sewot banget. pernyataan yang annoying banget! sebel kan denger yang kayak gitu. denger pertanyaan udah hamil belum aja, kayaknya udah bosen dengernya, ditambah pernyataan ‘kurang tokcer’ tuh cukup bikin pengen nyeburin tuh org ke danau. hahahahaha…sadisssss!

e tapi bener lho, that’s too shallow. semua hal terjadi ada alasannya. dan menikah semata-mata tujuannya bukan hanya punya anak. ada cita2 yang tidak kalah tinggi dari pasangan yang menikah, yaitu menyatu dengan cinta Allah swt. menikah itu demi mendapat berkah dari Allah swt. Hadirnya keturunan, adalah salah satu hadiah dari Allah swt sekaligus titipan bagi pasangan menikah yang mencari ridho dan berkah Allah swt. jadi, gak pantas buat kita menilai hal buruk terhadap kehendak Allah swt.

Aku dan suami selalu positive thinking. Keturunan akan hadir saat waktunya tepat. Kalau Allah swt bilang sekarang, ya sekarang. Tapi kalau Allah swt masih menahannya, ya kita harus tawakkal dan jangan berhenti usaha. Dan kami memutuskan untuk tidak mendengar dengan serius tanggapan orang, karena pernikahan ini kami yang jalani. toh juga baru berjalan 4 bulan dan orang tua kami masing-masing tidak pernah menuntut apalagi menyalahkan salah satu dari kami.

4 bulan masih sangat muda untuk umur pernikahan. jadi, tidak ada alasan tepat mendengarkan kalimat negatif dari orang lain tentang belum hadirnya sang buah hati. mungkin, masih ada PR buat aku dan suami untuk dibenahi sebelum kami siap menerima kehadiran anak.

salah seorang teman baikku berkata, “kalau lo punya keinginan, sebaiknya lo bernadzar. dan setiap malam sebelum tidur coba untuk sholat hajjat dua rakaat.”

semenjak itu aku membicarakan nadzar dengan suami dan mulai menjalankan sholat hajjat dua rakaat sebelum tidur.

Bulan kelima pun datang. Aku dan suami semakin cuek dengan omongan orang dan kami semakin menikmati kebersamaan kami berdua. Dan alhamdulillah nya, di awal bulan kelima suamiku punya cukup uang untuk DP mobil. Meskipun bukan mobil baru dan bukan mobil mahal, tapi tetap saja itu menjadi kebanggaan bagi suamiku yang sudah menabung beberapa tahun. Ini mobil pertamanya. Tercapailah cita-citanya untuk memiliki mobil sebelum aku hamil. Dulu, sebelum menikah, dia pernah bilang gini, ” hun, aku pengen punya mobil nanti setelah kita nikah dan kalau bisa sebelum kamu hamil. supaya kalau kamu hamil nanti, aku bisa antar pakai mobil kemana2.” dan Alhamdulillah, keinginannya terwujud. Pada saat itu aku belum hamil, dan kami sudah memiliki mobil dengan metode cicilan.

akhirnya aku dan suami sama2 ikut kursus nyetir selama kurang lebih sebulan (8 jam). setelah selesai 8 jam, kami coba ngelancarin pakai mobil sendiri. pertama kalinya nyetir jarak jauh, suami ku sampai harus ‘nyewa’ navigator. hahahha. karena masih ngerasa belum pede kalau nyetir gak ada pendamping.

This is it…
Masuk bulan ke-6, banyak hal aneh terjadi sama tubuhku. kepala pusing terus, badan tuh rasanya panas, pipis jadi sering, dan kalau di jalan suka mual2. memang sih aku sudah telat, tapi aku gak mau GR lagi. cape beli test pack terus dan hasilnya negatif. sudah gitu, muncul flek-flek selama beberapa hari. ya sudah aku mengiranya kalau ini tanda2 mau haid.

sebenernya aku malas, tapi suamiku maksa beli test pack karena curiga dan prihatin dengan aku yang tiap hari keadaannya menyedihkan. hehehe. ya sudah aku nurut deh. akhirnya tanggal 9 juni 2011 malam aku beli test pack di apotik yang jual obat generik deket rumah. harganya cuma 3000. ya sudahlah aku juga nothing too lose. aku beli malam itu, dan besok paginya selepas bangun tidur aku langsung tes urin.

hasilnya, dua garis merah tegas langsung terlihat. tapi aku masih gak percaya, karena ya test pack ini harganya cuma 3000, dan merk nya pun gak jelas. *sombong*
sementara kemarin2 aku beli test pack dengan merk2 terkenal yang harga nya belasan bahkan puluhan ribu hasilnya cuma satu garis. (hahahahah, itu mah emang dasar belum hamil yaaa :p).
aku langsung manggil suamiku ke kamar mandi untuk ngunjukin hasilnya. ekspresi nya beragam. aku sulit menjelaskannya karena aku juga masih gak yakin.

Hari itu, tgl 10 Juni 2011 kami putuskan untuk periksa ke Obgyn. tapi sebelumnya, suami ku ke apotik dulu untuk beli test pack yang ‘mahalan’. just to make sure. aku cek dan ternyata hasilnya juga dua garis. Alhamdulillah.
tapi yang bikin worry, kenapa ada flek yang keluar?

aku pun memutuskan untuk periksa ke dr adit lagi, karena udah pas aja. RSIA nya kebetulan Islami, jadi kalau ada pemeriksaan transvaginal, si dokter ini menyerahkan ke bidannya. jadi dia hanya melihat lewat layar, sementara si bidan yang memasukkan alatnya. so, walaupun dokternya laki-laki tapi tetap merasa nyaman karena dia gak menyentuh2 bagian sana. hehehehe.

tapi rupanya pagi itu dr adit sedang ada tindakan. sementara dokter lain di RS itu belum ada yang datang. akhirnya kami cari RS lain. dan terpilihnya RSIA Bunda Aliyah di Pd. Bambu.
Disitu aku ditangani sama dr Icksan, SpOG karena cuma dia yang praktek saat itu. dan aku sudah mohon2 supaya gak ada pemeriksaan transvaginal. selain gak nyaman, aku juga takut sama alatnya. hiiiiiii
ini fotonya dr icksan (hasil googling juga dan dapat di URL http://www.bunda.co.id/images/dokter/icksan_dr)

Dan, di USG lah perutku. dan ternyata, ada bulatan hitam di dalam prutku yang disebut ‘kantong rahim’. Subhanallah.
dr Icksan bilang, ‘jelas hamil dan jelas bagus karena hamilnya di dalam kandungan’. Alhamdulillah ya Allah.
Usia nya sudah 6 minggu dan ukurannya sudah 1.83 cm.
Tapi aku harus bedrest 3 hari supaya flek nya berhenti dan aku pun dikasih obat penguat rahim.

Alhamdulillah, penantian ku dan suami terjawab. Allah swt menjawab doaku dan nadzarku.
Ini bukan akhir, melainkan tahapan pertama dari new journey yang diamanatkan Allah swt untuk keluarga baruku.
Dan pastinya, keinginan suamiku agar ketika aku hamil kami sudah punya mobil, sudah tercapai.

Benar kan, semua akan indah pada waktunya. 🙂

to be continued..

Love,
Dedes

it’s been 28 weeks now!! can’t hardly wait ;)

alhamdulillah…

blog ini masih bisa dibuka dan saya gak lupa passwordnya! yippie! 😀 saking lamanya gak pernah blogging lagi semenjak menyandang status ‘Nyonya’. hihihi..

eniwei, sekarang aku udah jadi calon Ibu. kehamilanku sudah masuk minggu ke 28, which is…12 weeks to go!!
ini aku waktu umur kehamilanku 6 bulan (24 minggu).

perutnya sudah besaaaarrr…hehehe.
dan aku cinta perubahannya, melihat perutku yang tambah besar setiap minggu nya rasanya amazing.
betapa nikmat dan karunia Allah swt amat besar, mengizinkan aku untuk mengandung seorang calon manusia yang akan menjadi keturunanku dan suami.
Subhanallah…

sebagai bumil yang kritis (kritis sama penasaran gak beda jauh kan ya ;p), aku punya tabel perkembangan janin setiap minggunya. aku unduh dari salah satu website ternama http://www.ayahbunda.co.id
seperti ini tabelnya :

dari sini kita bisa lihat setipa minggunya berapa rata-rata berat dan panjang si calon baby.
jadi kalau kita kunjungan bulanan ke dokter, bisa dikira2 hasilnya gimana 🙂

Di minggu ke 28 ini, calon baby ku semakin aktif. apalagi kalau udah malem. susah tidur deh Ibunya. hehehehe.
dia gerak ke kanan ke kiri mengikuti posisi tidur Ibunya. setiap malem suami ku dengan setia mengoleskan “Cussons First Years for New Mun : Stretch Mark Cream” di perutku supaya nanti stretch mark pasca melahirkan bisa diminimalisir, dan tentunya biar gak gatal berlebihan seiring dengan semakin besarnya perutku.

Calon baby ku cukup responsif terhadap stimulasi suara, khususnya suara Al Qur’an dan musik. kalau aku mengaji, atau aku pasangkan rekaman org mengaji, dan aku kasih denger musik klasik dia langsung merespon dengan banyak gerakan.
insya Allah, usaha yang aku lakukan ini bisa membuat ia menjadi anak yang smart dan bertaqwa. amin ya rabb…

perubahan di tubuhku juga sudah sangat kentara, dulu pake baju M udah ‘Muat’, sekarang harus pake baju XL supaya bisa ‘Xtra Lega’ hehehe. ada beberapa baju sebelum hamil yang masih bisa dipakai, tapi kebanyakan sih ga..hahaha.
mungkin pertambahannya udah 12 kilo lebih kali yaa, dihitung dari sebelum hamil. fyuh..gpp lah kata suami ku masih seksi.hahaha

due date nya 4 Februari 2012…rasanya masih lama banget. aku pengen waktu berjalan lebih cepat lagi supaya hari itu cepat datang. i wanna see my baby soon! hehehehe… gak sabar pengen ketemu, meluk, menyusui, cium, waaaah pokoknya rasanya rindu banget sm si calon baby.

takut melahirkan? hmmmm…Alhamdulillah gak berlebihan. baca buku ini itu, denger pengalaman yang sudah melahirkan cukup menggambarkan bagaimana sakitnya pengalaman melahirkan itu. tp aku harus positive thinking, bahwa proses ini indah. bahwa nantinya kesakitan itu akan tergantikan dengan lahirnya pelipur lara kami ke dunia. mencoba membayangkan bahwa setelah kesakitan itu ada hal yang sangat indah, karunia yang sangat besar dari Allah swt.
maka, dari sekarang aku melakukan self therapy untuk meminimalisir ketakutan berlebihan pada saat melahirkan nanti. tawakkal dan mendekatkan diri pada Allah swt aku selalu coba lakukan agar nantinya semua dimudahkan. insya Allah…

I’m so excited! 🙂

Oia, bulan2 ini saatnya hunting baju dan perlengkapan baby! yeay…makin excited.

Love,
Dedes