Writing is my inner passion!

Writing is my inner passion. Yes, from looong time ago. Berhenti menulis indah ketika duduk di bangku kuliah, saat waktu lebih banyak dihabiskan untuk membuat makalah – makalah dan mencari serakan – serakan berlian melalui kegiatan survey di kampus. Sejak dulu, cita-cita saya adalah menjadi penulis. Jatuh cinta adalah momen yang sangat bikin jadi produktif dalam menulis.. But, only if it’s one-sided love. If it’s not, I’d rather to have a date with the real one than collecting sweet and nice words to express it.

I like to write about anything in life, excluding politics. Yes, I know I’m a politics bachelor. But, spending 4 years in political science I think is enough. Bukan tidak tertarik menulis tentang politik, tapi saya lebih suka belajar ilmunya dibanding menganalisa aktornya. Karena jujur, I hate practical politics and I hate its politicians. Bisa dibilang, dulu keinginan saya untuk masuk dalam studi politik adalah ketertarikan saya untuk belajar mengenai politik itu sendiri  yang membuat saya penasaran karena politik dianggap kotor.

Politics is not dirty, the actor in it makes it look dirty. Politik ada dalam hidup kita sehari –hari. Ketika kamu ingin membuat pasanganmu membelikan kado ulang tahun tanpa harus membuatnya terlihat sebagai keinginan kamu. Ya, that’s politics my friends. It’s the way you influence people to do what you want without them realize that you’re influencing them. Don’t tell me you never do that. Oleh karena itulah, politik jadi ilmu tertua yang diwariskan oleh para ilmuwan Yunani macam Plato.

Okay, I said it earlier that I don’t like to write about politics. I’m done with it.

Yes, writing is till become my inner passion. I used to write anything that bumps up to my mind. Bahkan saya punya blog pribadi yang isinya ocehan – ocehan dan pandagan personal tentang apapun. Gak terlalu banyak posting memang, karena hanya iseng dan gak berniat jadi blogger professional.

Buat saya, menulis adalah pelampiasan terbaik dalam perasaan apapun. But, I decided not to be an extrovert anymore who always tell personal story publicly. Jadi, saya akan menulis kebanyakan ketika sedang rileks, nyaman, dan ingin membagikan perasaan itu kepada sekitar. Ketika punya masalah, saya jaga jarak dengan segala jejaring sosial dan lebih senang haha hihi dengan orang – orang yang nyata untuk melupakan perasaan itu. Galau? Gak la yau..hehehehe.

I want to write a lot. I want to be a novelist and launch a potential and best seller novel. Seems to me that it only my utopia. Menulis ini saja harus menunggu saat legowo sehingga saya bisa berekpresi. Menjadi ibu bekerja menguras waktu dan tenaga, tapi tentu tidak menguras kebahagiaan saya. Okelah saat ini saya hanya berfokus untuk menjadi smart and productive employee dan happy and healthy mother. Ada saatnya nanti, (dan saya harus percaya bahwa akan ada) ketika semuanya terasa cukup legowo, anak saya tumbuh menjadi anak yang cerdas, sholehah, happy, sehat, beautiful, dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa, saya bekerja di rumah dan memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk menuangkan berbagai pemikiran melalui tulisan.

I just don’t want to be too much multitasking person. For me it’s too much. Meskipun, terlalu banyak kejadian dan perasaan yang ingin saya tuangkan dalam tulisan – tulisan, bahkan saat di kendaraan umum (sering tidak selesai karena terganggu oleh pengamen punk yang merasa dirinya tidak lebih buruk dari penumpang, sigh!), dan dimanapun. Thanks God ada twitter.

Tempat ‘nyampah’ paling nyaman tanpa perlu khawatir dapat komentar dari yang lain. Pikiran apapun saat itu juga kadang saya ungkapkan lewat twit – twit saya. But, of course bukan ungkapan –ungkapan galau ala abg masa kini atau curhatan – curhatan colongan macam para penghuni facebook. I’m building a good image everywhere. Meskipun, ocehan di twitter kebanyakan adalah celotehan atau komentar yang tidak terbukti signifikansinya dengan khalayak, tapi saya sangat menghindari ungkapan kegalauan dan curhatan pribadi tentang masalah apapun.

For me, social media is the channel where you can connect to others. Jadi, sebisa mungkin yang diungkapkan adalah hal – hal yang tidak personal dan berikanlah image positif di social media sehingga orang akan menilai kamu sebagai orang yang positif. Jangan pernah memaki apalagi curhat di sosial media. That’s my principle in using social media. Social media is not personal and intimate. People will get you wrong when you shout on people or disclose your personal story.

Yes, I keep writing about anything, right? I think I’m good now. Now let’s get back to work and be a smart and productive employee.

Fighting!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s