Flash Back Part I : Penantian

alright, kemarin tiba2 posting cerita kehamilanku yang ternyata udah berjalan 28 minggu-an. setelah sekian lama nya gak blogging.

biar ada konsistensi cerita (saahhh…), sekarang waktu nya share tentang perjalanan menunggu datangnya jawaban doaku sampai di akhir trimester kedua.

Penantian
Semua org pasti setuju kalau yang namanya menantikan sesuatu itu rasanya bikin -meminjam istilah yang lg happening- galau-galau gimana gitu. Ahahahaha. Yes, penantian itu galau, jendral! Syndrom pengantin baru itu hampir sama di sebagian besar pasangan baru, pengen cepet punya momongan. Ya, meskipun sebagian pasangan memilih sengaja menunda karena satu dan lain hal. Dalam kasus ku, aku dan suami sepakat tidak menunda tapi juga gak kepengen buru-buru. Masa perkenalan yang cukup singkat bikin aku ingin menikmati mesra-mesraan pacaran selepas menikah.
Rasanya masih belum pengen direpotkan dengan urusan anak, masih pengen santai-santai dan masih menyesuaikan diri juga dengan kehidupan pasca menikah yang bisa aku bilang gak mudah. Kepengenku, yaaa at least di bulan ke-4 menikah aku hamil. Jadi anakku lahir tepat setahun pernikahan ku.
Ini rencana awal aja.
Setelah berjalan…ternyata aku sangat menantikan kehadiran si buah hati. Apalagi melihat dan mendengar cerita teman-teman yang baru menikah dan langsung dikasih hamil sm Allah swt. Dalam hatiku aku juga ingin seperti mereka.
Kecemasan-kecemasan mulai dataaaang…

Di bulan pertama, aku masih santai dan sibuk dengan jalan-jalan menikmati pacaran dengan suamiku. Kami sepakat kalau soal anak itu sudah digariskan oleh Allah swt, jadi tidak perlu ngoyo.Tapi sempet sih beli testpack dan hasilnya negatif.

Masuk bulan ke dua, haid ku mulai aneh. Yang biasanya mundur eh jadi maju seminggu. Plus dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Daripada penasaran, akhirnya ku cek ke RS Hermina mengenai haid ku ini dan sekalian juga mau ngecek keadaan rahimku apakah sehat dan baik-baik saja.. Alhamdulillah nothing to worry about. Sebenernya aku disuruh balik lagi setelah haid selesai, tapi aku gak balik. hehehehe. Selesai haid aku malah beli test pack…ya sapa tau..iseng2 berhadiah. 😛

Bulan ketiga, haidku mundur 2 minggu lebih. Akhirnya aku coba beli test pack (lagi). Sebenernya urusan test pack ini bikin aku tengsin dan cape juga sih. Setiap bulannya bolak-balik ke apotik beli test pack. Yg jaganya sampe kenal. Hihihihi.. udah gitu, belinya berbagai macam merk pula. Ya, namanya usaha.
And then again, hasilnya negatif. Tapi kok kenapa haidku belum datang-datang juga padahal udah telat lebih dr dua minggu.
Akhirnya aku dan suami datang ke Obgyn lagi. Kali ini aku datangin RSIA deket rumah, namanya RSIA Sayyidah. Dapet dokter cowok yang guanteng. Ahahaha, jadi seneng. Namanya dr Aditya Kusuma, SpOG. Masih muda dan orgnya informatif sekali. Dia menjelaskan apa itu yang namanya infertilitas lewat slide demi slide di laptopnya.
Ini lho di dokter ganteng dan baik hati itu.. (hasil googling dan ketemu di URL ini http://www.flickr.com/photos/selamatkanibu/4831066319/)

Setelah dicek dan ricek, di rahimku gak ada masalah. Hanyaaaaa… seharusnya kalau sudah menjelang haid, dinding rahimku menebal hingga sekian mm (lupa tepatnya). Tapi, ini cuma 2 mm, yaitu keadaan normal dinding rahim setelah haid. Nah lho.
Penyebabnya bisa dari stress, fisik yang lelah, dan faktor2 lain yang menyebabkan ketidakstabilan hormon.
Jadilah aku dikasih obat subur..hehehe maksudnya obat penambah hormon progesteron agar aku bisa haid. Dan efeknya sodara2…dalam dua bulan berat naik 3 kilo. Sesuatu yah.
Memang sih dalam 5 hari haid ku keluar, tapi berat badan juga ikut membuncah. Hiks hiks

Tapi see the bright side aja lah..kata temenku yang dokter gak apa makan jadi banyak, berat nambah..itu juga membantu kecukupan nutrisi buat mempersiapkan kehamilan. Okelah, gpp yg penting masih seksi. hahahaha.

Lalu, masuk ke bulan 4 pernikahan. Bulan yg aku targetkan untuk bisa hamil. Aku mulai mengintensifkan usaha-usaha supaya aku cepat hamil. bahkan sampai ribut2 kecil sama suami, karena kesannya ‘maksa’ dia supaya dia juga usaha. aku banyak baca artikel2 kesehatan, dan cari tips2 supaya cepet hamil. kalau ada hal yg dilakukan suamiku gak sesuai sama tips, aku ngambek. sebenernya jadi miris sih kalau inget. karena keinginan punya anak cepet jadi bikin hubungan bukannya harmonis malah jd ribet. hehehehe.
di bulan ini, lagi2 aku telat hampir 3 minggu. tapi aku sudah bersikap pasrah aja. meskipun memang usaha tetep dilakukan dengan sistem kalender. tapi aku gak mau jadi seperti orang yang terobsesi, karena semakin terobsesi semakin sewot sendiri dan akhirnya malah stress. Kalau stress malah makin susah hamilnya.

sebenernya yang bikin pasangan baru itu tambah terobsesi punya anak cepet adalah komentar dari orang sekitar. pertanyaan-pertanyaan dr mereka yang mungkin abis menikah langsung ‘isi’ atau mereka yang punya gambaran ideal mengenai siklus = menikah -> hamil. jarang yang berpikir bahwa sometimes ada yang harus menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya bisa hamil. sebenarnya mereka gak salah sih. hanya aja, setiap pasangan baru itu pasti terbebani dengan pertanyaan “kapan punya anak?” atau “udah isi belum?”. apalagi kalau ada yg menambah komentar, “gimana sih, kok belum? suaminya/istrinya kurang tokcer nih”. uuuuggghhhhhh, kalau denger yang kayak gitu rasanya udah sewot banget. pernyataan yang annoying banget! sebel kan denger yang kayak gitu. denger pertanyaan udah hamil belum aja, kayaknya udah bosen dengernya, ditambah pernyataan ‘kurang tokcer’ tuh cukup bikin pengen nyeburin tuh org ke danau. hahahahaha…sadisssss!

e tapi bener lho, that’s too shallow. semua hal terjadi ada alasannya. dan menikah semata-mata tujuannya bukan hanya punya anak. ada cita2 yang tidak kalah tinggi dari pasangan yang menikah, yaitu menyatu dengan cinta Allah swt. menikah itu demi mendapat berkah dari Allah swt. Hadirnya keturunan, adalah salah satu hadiah dari Allah swt sekaligus titipan bagi pasangan menikah yang mencari ridho dan berkah Allah swt. jadi, gak pantas buat kita menilai hal buruk terhadap kehendak Allah swt.

Aku dan suami selalu positive thinking. Keturunan akan hadir saat waktunya tepat. Kalau Allah swt bilang sekarang, ya sekarang. Tapi kalau Allah swt masih menahannya, ya kita harus tawakkal dan jangan berhenti usaha. Dan kami memutuskan untuk tidak mendengar dengan serius tanggapan orang, karena pernikahan ini kami yang jalani. toh juga baru berjalan 4 bulan dan orang tua kami masing-masing tidak pernah menuntut apalagi menyalahkan salah satu dari kami.

4 bulan masih sangat muda untuk umur pernikahan. jadi, tidak ada alasan tepat mendengarkan kalimat negatif dari orang lain tentang belum hadirnya sang buah hati. mungkin, masih ada PR buat aku dan suami untuk dibenahi sebelum kami siap menerima kehadiran anak.

salah seorang teman baikku berkata, “kalau lo punya keinginan, sebaiknya lo bernadzar. dan setiap malam sebelum tidur coba untuk sholat hajjat dua rakaat.”

semenjak itu aku membicarakan nadzar dengan suami dan mulai menjalankan sholat hajjat dua rakaat sebelum tidur.

Bulan kelima pun datang. Aku dan suami semakin cuek dengan omongan orang dan kami semakin menikmati kebersamaan kami berdua. Dan alhamdulillah nya, di awal bulan kelima suamiku punya cukup uang untuk DP mobil. Meskipun bukan mobil baru dan bukan mobil mahal, tapi tetap saja itu menjadi kebanggaan bagi suamiku yang sudah menabung beberapa tahun. Ini mobil pertamanya. Tercapailah cita-citanya untuk memiliki mobil sebelum aku hamil. Dulu, sebelum menikah, dia pernah bilang gini, ” hun, aku pengen punya mobil nanti setelah kita nikah dan kalau bisa sebelum kamu hamil. supaya kalau kamu hamil nanti, aku bisa antar pakai mobil kemana2.” dan Alhamdulillah, keinginannya terwujud. Pada saat itu aku belum hamil, dan kami sudah memiliki mobil dengan metode cicilan.

akhirnya aku dan suami sama2 ikut kursus nyetir selama kurang lebih sebulan (8 jam). setelah selesai 8 jam, kami coba ngelancarin pakai mobil sendiri. pertama kalinya nyetir jarak jauh, suami ku sampai harus ‘nyewa’ navigator. hahahha. karena masih ngerasa belum pede kalau nyetir gak ada pendamping.

This is it…
Masuk bulan ke-6, banyak hal aneh terjadi sama tubuhku. kepala pusing terus, badan tuh rasanya panas, pipis jadi sering, dan kalau di jalan suka mual2. memang sih aku sudah telat, tapi aku gak mau GR lagi. cape beli test pack terus dan hasilnya negatif. sudah gitu, muncul flek-flek selama beberapa hari. ya sudah aku mengiranya kalau ini tanda2 mau haid.

sebenernya aku malas, tapi suamiku maksa beli test pack karena curiga dan prihatin dengan aku yang tiap hari keadaannya menyedihkan. hehehe. ya sudah aku nurut deh. akhirnya tanggal 9 juni 2011 malam aku beli test pack di apotik yang jual obat generik deket rumah. harganya cuma 3000. ya sudahlah aku juga nothing too lose. aku beli malam itu, dan besok paginya selepas bangun tidur aku langsung tes urin.

hasilnya, dua garis merah tegas langsung terlihat. tapi aku masih gak percaya, karena ya test pack ini harganya cuma 3000, dan merk nya pun gak jelas. *sombong*
sementara kemarin2 aku beli test pack dengan merk2 terkenal yang harga nya belasan bahkan puluhan ribu hasilnya cuma satu garis. (hahahahah, itu mah emang dasar belum hamil yaaa :p).
aku langsung manggil suamiku ke kamar mandi untuk ngunjukin hasilnya. ekspresi nya beragam. aku sulit menjelaskannya karena aku juga masih gak yakin.

Hari itu, tgl 10 Juni 2011 kami putuskan untuk periksa ke Obgyn. tapi sebelumnya, suami ku ke apotik dulu untuk beli test pack yang ‘mahalan’. just to make sure. aku cek dan ternyata hasilnya juga dua garis. Alhamdulillah.
tapi yang bikin worry, kenapa ada flek yang keluar?

aku pun memutuskan untuk periksa ke dr adit lagi, karena udah pas aja. RSIA nya kebetulan Islami, jadi kalau ada pemeriksaan transvaginal, si dokter ini menyerahkan ke bidannya. jadi dia hanya melihat lewat layar, sementara si bidan yang memasukkan alatnya. so, walaupun dokternya laki-laki tapi tetap merasa nyaman karena dia gak menyentuh2 bagian sana. hehehehe.

tapi rupanya pagi itu dr adit sedang ada tindakan. sementara dokter lain di RS itu belum ada yang datang. akhirnya kami cari RS lain. dan terpilihnya RSIA Bunda Aliyah di Pd. Bambu.
Disitu aku ditangani sama dr Icksan, SpOG karena cuma dia yang praktek saat itu. dan aku sudah mohon2 supaya gak ada pemeriksaan transvaginal. selain gak nyaman, aku juga takut sama alatnya. hiiiiiii
ini fotonya dr icksan (hasil googling juga dan dapat di URL http://www.bunda.co.id/images/dokter/icksan_dr)

Dan, di USG lah perutku. dan ternyata, ada bulatan hitam di dalam prutku yang disebut ‘kantong rahim’. Subhanallah.
dr Icksan bilang, ‘jelas hamil dan jelas bagus karena hamilnya di dalam kandungan’. Alhamdulillah ya Allah.
Usia nya sudah 6 minggu dan ukurannya sudah 1.83 cm.
Tapi aku harus bedrest 3 hari supaya flek nya berhenti dan aku pun dikasih obat penguat rahim.

Alhamdulillah, penantian ku dan suami terjawab. Allah swt menjawab doaku dan nadzarku.
Ini bukan akhir, melainkan tahapan pertama dari new journey yang diamanatkan Allah swt untuk keluarga baruku.
Dan pastinya, keinginan suamiku agar ketika aku hamil kami sudah punya mobil, sudah tercapai.

Benar kan, semua akan indah pada waktunya. 🙂

to be continued..

Love,
Dedes

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s